RADARTUBAN – Tantrum bukanlah tanda bahwa anak nakal atau tidak tahu aturan. Sebaliknya, tantrum merupakan bagian alami dari proses tumbuh kembang anak balita.
Pada fase ini, mereka sedang belajar mengenali dan mengekspresikan perasaan maupun keinginan, meski belum sepenuhnya mampu mengungkapkannya lewat kata-kata.
Bagi mereka, menangis, berteriak, atau merajuk adalah cara berkomunikasi ketika dunia terasa membingungkan atau tidak sesuai harapan.
Yang paling mereka harapkan bukanlah luapan amarah atau hukuman, melainkan kehadiran orang tua yang penuh empati.
Disiplin positif berfokus pada pengertian dan aturan yang jelas tanpa paksaan.
Pendekatan ini membantu anak memahami bahwa perasaan mereka wajar, sekaligus melatih mereka untuk menunjukkan emosi dengan cara yang lebih tepat.
Menurut interpretasi dari sumber CDC dan Parents.com, disiplin positif lebih dari sekadar menghukum; fokusnya adalah menciptakan hubungan emosional yang kuat sambil menerapkan batasan yang jelas.
Dengan pendekatan ini, ledakan emosi anak bukan lagi momok menakutkan, melainkan momen berharga untuk berlatih menenangkan diri.
Mengapa anak tantrum?
Tantrum sering kali terjadi karena anak masih kesulitan menyampaikan apa yang mereka rasakan atau inginkan, misalnya saat lapar, lelah, atau ingin diperhatikan.
Begitu orang tua memahami bahwa tantrum bukan sekadar “nakal”, melainkan sinyal dari emosi yang belum bisa diungkapkan, mereka bisa merespons dengan lebih sabar dan penuh pengertian.
Tips Menghadapi Tantrum
1. Jaga emosi dan akui perasaan anak
Melampiaskan amarah hanya akan memperburuk suasana. Saat anak marah dan emosinya memuncak, kendalikan diri Anda.
Tatap matanya dengan lembut dan katakan, “Aku tahu kamu sedang marah.”
Kalimat sederhana ini bisa menjadi jembatan empati yang menunjukkan bahwa Anda benar-benar hadir, baik secara fisik maupun emosional.
2. Gunakan strategi “ignore and redirect” untuk tantrum karena mencari perhatian
Jika tantrum terjadi karena anak mencari perhatian, gunakan strategi “abaikan dan alihkan”.
Di balik perilaku itu ada kebutuhan untuk dimengerti dan disayangi.
Alihkan fokus anak ke kegiatan yang lebih menyenangkan, misalnya menawarkan permainan seru atau aktivitas santai yang bisa dilakukan bersama.
Baca Juga: Arsenal Bajak Noni Madueke dari Chelsea: Si Anak London Pulang Kampung ke Meriam London!
3. Terapkan time-in, hindari hukuman isolasi
Alih-alih time-out yang membuat anak merasa ditolak dan kesepian, gunakan time-in: tetap bersama anak sambil membantunya menenangkan diri.
Tujuan utamanya bukan sekadar menghentikan tantrum, melainkan memastikan anak merasa aman ketika emosinya memuncak.
Kesabaran dan kemampuan orang tua untuk tidak langsung menghakimi dapat menjadi dukungan emosional yang sangat berarti.
Mungkin anak belum bisa mengungkapkannya dengan kata-kata, tetapi di lubuk hati mereka benar-benar merasakannya. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama