RADARTUBAN - Pernah nggak sih kamu datang ke acara nikahan, lalu menyadari satu hal yang cukup konsisten: pengantin wanitanya jarang—kalau nggak bisa dibilang hampir tidak pernah—pakai kacamata.
Padahal, sebelum hari H, dia adalah pemakai kacamata sejati. Teman-teman dekat tahu, keluarga tahu, bahkan calon suami pun tahu.
Tapi begitu hari pernikahan tiba, kacamata itu lenyap. Diganti softlens, atau malah dibiarkan blur demi estetika.
Sebagai sesama pemakai kacamata yang pernah mengalami dilema ini, saya pun bertanya-tanya: kenapa sih kacamata harus disingkirkan saat rias pengantin?
Berikut empat alasan yang sering jadi dalih, meski kadang bikin kita sambat dalam hati.
1. Kacamata Mengganggu Proses Merias
Makeup artist biasanya ingin punya “kanvas” yang bersih.
Kacamata dianggap menghalangi akses ke area mata, terutama saat mengaplikasikan eyeshadow, eyeliner, dan bulu mata palsu.
Kalau kacamata tetap dipakai, hasil riasan bisa belepotan atau nggak maksimal.
Tapi ya, konsekuensinya: mata jadi buram, dan pengantin harus percaya sepenuhnya pada tangan MUA dan cermin yang kabur.
2. Estetika Foto dan Video
Alasan ini sering jadi yang paling kuat: kacamata memantulkan cahaya, bikin silau di foto, dan dianggap “mengganggu” visual.
Padahal, bukankah kacamata juga bagian dari identitas?
Tapi di hari pernikahan, estetika sering menang telak atas kenyamanan.
Softlens pun jadi solusi instan, meski tidak semua orang terbiasa.
Ada yang merasa perih, ada yang matanya merah, dan ada juga yang akhirnya pasrah dengan pandangan kabur.
3. Transformasi Total: “Harus Beda dari Hari Biasa”
Ada ekspektasi bahwa pengantin harus tampil beda. Bukan cuma cantik, tapi juga “wow.” Dan kacamata dianggap terlalu “biasa.”
Maka muncullah transformasi yang kadang bikin kita pangling.
Bukan cuma karena riasannya, tapi karena wajahnya benar-benar berubah tanpa kacamata. Ada yang merasa janggal, ada yang sampai nggak dikenali.
4. Tekanan Sosial dan Standar Kecantikan
Di balik semua alasan teknis, ada tekanan sosial yang halus tapi nyata: bahwa cantik itu harus tanpa kacamata.
Bahwa pengantin ideal adalah yang bermata besar, bebas dari frame, dan bisa menatap kamera dengan tatapan tajam. Padahal, banyak dari kita yang justru merasa lebih percaya diri dengan kacamata. Tapi di hari pernikahan, standar itu seolah jadi mutlak.
Btw, mungkin sudah saatnya kita mempertanyakan standar ini.
Kalau kacamata adalah bagian dari diri kita, kenapa harus disingkirkan di hari yang katanya paling jujur dan sakral?
Bukankah lebih indah jika pengantin tampil sebagai dirinya sendiri, lengkap dengan frame yang sudah menemani hari-hari panjang sebelum janur kuning melengkung?
Karena sejatinya, yang membuat pengantin bersinar bukan cuma riasan atau softlens, tapi kenyamanan dan kepercayaan diri.
Dan kalau itu datang dari sepasang kacamata, ya kenapa tidak? (*)
Editor : Yudha Satria Aditama