Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Selain FOMO, Mari Mengenal FOBO: Musuh Baru dalam Pengambilan Keputusan

M. Afiqul Adib • Minggu, 31 Agustus 2025 | 06:05 WIB
Ilustrasi pengambilan keputusan.
Ilustrasi pengambilan keputusan.

RADARTUBAN- Kita sudah akrab dengan FOMO—fear of missing out—ketakutan akan ketinggalan tren, momen, atau peluang yang sedang ramai.

Tapi ada satu saudara dekat FOMO yang diam-diam lebih licik: FOBO, atau fear of better options. Dan percaya atau tidak, FOBO bisa membuat kita terjebak dalam ketidakpastian yang jauh lebih melelahkan.

Bayangkan ini: kita baru saja ditawari posisi baru di tempat kerja. Gajinya lumayan, lingkungannya oke, dan ada peluang berkembang.

Awalnya kita senang. Tapi kemudian pikiran mulai berkelana: “Apa ini pilihan terbaik?

Bagaimana kalau minggu depan ada tawaran lain dengan gaji lebih besar, jam kerja lebih fleksibel, atau bahkan bisa kerja dari rumah?” Kita mulai ragu. Kita menunda keputusan. Kita menunggu “yang lebih baik”, yang belum tentu datang.

Inilah FOBO bekerja: ketakutan akan pilihan yang lebih baik membuat kita sulit mengambil keputusan.

Kita terjebak dalam pencarian tanpa ujung, berharap ada opsi yang lebih sempurna, lebih ideal, lebih cocok dengan versi ideal diri kita. Padahal, dalam banyak kasus, pilihan yang ada di depan mata sudah cukup baik.

FOBO bukan hanya soal pekerjaan. Ia bisa muncul saat memilih tempat makan, pasangan hidup, bahkan saat membeli sepatu.

Kita scroll marketplace berjam-jam, membandingkan harga, warna, ulasan, lalu akhirnya... nggak beli apa-apa. Kita terlalu sibuk mencari yang “paling pas” sampai lupa bahwa “cukup pas” pun bisa membawa kepuasan.

Masalahnya, FOBO sering menyamar sebagai “kebijaksanaan”. Kita merasa sedang berhati-hati, mempertimbangkan semua kemungkinan.

Padahal, yang terjadi adalah penundaan yang berlarut-larut. Kita jadi overthinking, kehilangan momentum, dan kadang malah kehilangan kesempatan.

Dalam dunia yang penuh pilihan seperti sekarang, FOBO makin subur. Teknologi membuat kita bisa membandingkan segalanya—dari lowongan kerja sampai harga kopi sachet.

Tapi semakin banyak pilihan, semakin besar pula risiko kita tidak memilih sama sekali.

Lalu, bagaimana cara menghindari FOBO?

Pertama, sadari bahwa tidak ada pilihan yang sempurna. Setiap keputusan pasti punya konsekuensi.

Kedua, tetapkan batas waktu untuk memutuskan. Jangan biarkan diri terjebak dalam “nanti dulu”.

Ketiga, percaya pada intuisi dan pengalaman. Kadang, keputusan terbaik bukan yang paling logis, tapi yang paling sesuai dengan nilai dan kebutuhan kita saat itu.

Dan yang paling penting: belajar menerima bahwa “cukup baik” itu sudah cukup. Kita tidak harus selalu mendapatkan yang terbaik. Kita hanya perlu memilih, menjalani, dan memberi ruang bagi pilihan itu untuk berkembang.

FOBO mungkin terdengar modern dan canggih, tapi dampaknya bisa sangat manusiawi: rasa cemas, stagnasi, dan kehilangan arah.

Maka, selain menghindari FOMO, mari juga waspada terhadap FOBO. Karena dalam hidup, kadang yang paling bijak bukan mencari yang terbaik, tapi berani memilih dan melangkah. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Fear of Better Options #Keputusan penting #fomo #tren #fear of missing out #FOBO