Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Yang Lebih Menggambarkan Indonesia Hari Ini Bukan One Piece, Tapi Attack on Titan

M. Afiqul Adib • Senin, 1 September 2025 | 05:10 WIB
lustrasi komik attack on titan.
lustrasi komik attack on titan.

RADARTUBAN - Beberapa waktu lalu, bendera bajak laut One Piece sempat berkibar di berbagai aksi demonstrasi. Simbol tengkorak dengan topi jerami itu dianggap mewakili semangat perlawanan terhadap ketidakadilan.

Banyak yang menyamakan situasi Indonesia dengan dunia One Piece: ada Tenryubito yang arogan, ada mariner yang sewenang-wenang, dan ada rakyat biasa yang terus berjuang di bawah tekanan sistem.

Tapi setelah melihat berita kemarin—tentang polisi yang menggilas pengemudi ojek online dengan kendaraan taktis—saya merasa analogi One Piece sudah tidak cukup. Yang lebih menggambarkan Indonesia hari ini justru adalah Attack on Titan.

Di anime itu, awalnya kita diajak percaya bahwa musuh utama adalah para Titan: makhluk raksasa yang mengancam umat manusia.

Maka dibentuklah pasukan khusus, Survey Corps atau pasukan pengintai, yang bertugas memburu Titan dan melindungi tembok peradaban.

Tapi seiring cerita berjalan, kita mulai sadar bahwa musuh sebenarnya bukan Titan. Musuhnya adalah manusia. Bangsanya sendiri.

Ada momen menyakitkan ketika anggota Survey Corps menyaksikan rekannya dibunuh bukan oleh Titan, tapi oleh sesama manusia. Beberapa pasukan justru ditugaskan untuk memusnahkan pasukan pengintai.

Mereka yang dulu dianggap pahlawan, kini diburu oleh sistem yang mereka bela. Dan di titik itu, kita sadar: ini bukan lagi soal melawan monster, tapi soal melawan ketidakadilan yang disamarkan sebagai aturan.

Indonesia hari ini terasa seperti itu. Ketika aparat yang seharusnya melindungi justru menjadi ancaman.

Ketika rakyat kecil yang mencari nafkah malah digilas oleh kendaraan milik negara. Ketika suara-suara kritis dibungkam, dan mereka yang berani bicara dianggap musuh.

Kita hidup di tengah sistem yang membingungkan. Di satu sisi, kita diajak percaya bahwa hukum ditegakkan. Tapi di sisi lain, kita melihat ketimpangan yang nyata.

Orang kecil dihukum karena mencuri sandal, sementara yang besar bisa lolos meski merugikan negara miliaran rupiah. Rasanya seperti hidup di dalam tembok, tapi bukan untuk dilindungi—melainkan untuk dibatasi.

Dan seperti di Attack on Titan, ada banyak orang baik di dalam sistem. Tapi mereka terjebak. Terpaksa tunduk. Atau diam karena takut. Mereka tahu ada yang salah, tapi tidak bisa berbuat banyak. Karena melawan berarti kehilangan. Karena bicara berarti dibungkam.

Di titik ini, kita perlu bertanya ulang: siapa sebenarnya Titan itu? Apakah benar musuh kita adalah “yang di luar,” atau justru sistem yang kita bangun sendiri? Apakah benar kita aman di balik tembok, atau justru sedang dikurung?

One Piece memang punya semangat perlawanan. Tapi Attack on Titan punya kedalaman konflik yang lebih relevan.

Ia menggambarkan bagaimana sistem bisa memakan anaknya sendiri. Bagaimana idealisme bisa dihancurkan oleh kepentingan. Dan bagaimana kebebasan bisa jadi ancaman bagi mereka yang ingin mempertahankan kekuasaan.

Indonesia hari ini bukan tentang bajak laut yang melawan kerajaan. Tapi tentang rakyat yang mulai sadar bahwa tembok perlindungan bisa berubah jadi tembok penjara.

Dan bahwa Titan itu, kadang bukan monster besar—tapi manusia biasa yang diberi kuasa tanpa kontrol. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#ketidakadilan #one piece #rakyat #attack on titan #aksi demonstrasi #Indonesia