Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Selalu Ingin Benar: Tanda Ego yang Merusak Relasi

Alifah Nurlias Tanti • Kamis, 18 September 2025 | 02:46 WIB
Orang yang selalu ingin dianggap benar sering kali sulit menerima perbedaan pendapat, sehingga menimbulkan konflik.
Orang yang selalu ingin dianggap benar sering kali sulit menerima perbedaan pendapat, sehingga menimbulkan konflik.

RADARTUBAN - Dalam keseharian, kita pasti pernah berhadapan dengan orang yang enggan membuka diri terhadap sudut pandang orang lain.

Mereka tampak selalu ingin berada di posisi yang benar, bahkan ketika kenyataannya tidak sepenuhnya mendukung.

Sikap ingin selalu benar ini sering kali jadi pemicu konflik yang tak perlu.

Bukannya membuka ruang untuk saling memahami, justru malah memperkeruh suasana.

Sikap ini bisa muncul di mana saja, misalnya di tempat kerja, dalam keluarga, bahkan di lingkaran pertemanan.

Dorongan untuk selalu merasa paling benar bisa muncul kapan saja, terutama saat seseorang merasa terancam atau ingin mempertahankan citra dirinya.

Tanda Orang Selalu Ingin Benar

Psikolog Elisa Widyakusuma, lewat unggahan di akun TikTok-nya, pernah membahas soal orang yang punya kecenderungan ingin selalu benar.

Menurutnya, salah satu ciri yang paling mudah dikenali adalah kebiasaan mengkritik orang lain secara berlebihan.

Mengapa Orang Ingin Selalu Benar?

Menurut dr. Ndraemon, seorang praktisi kesehatan mental yang aktif berbagi edukasi lewat TikTok, dorongan untuk selalu merasa benar ternyata sering kali berakar dari rasa tidak aman dalam diri alias insecurity.

Ketika seseorang merasa kurang percaya diri, mereka cenderung menutupinya dengan sikap yang terlihat dominan.

Anak yang tumbuh di bawah tekanan atau sering mendapat kritik tajam bisa membawa luka itu hingga dewasa.

Mereka belajar bahwa melakukan kesalahan berarti gagal, dan gagal berarti tidak layak dihargai.

Maka, saat dewasa, mereka berusaha keras untuk selalu terlihat benar bukan karena ingin menang, tapi karena takut dianggap lemah.

Dampak dalam Kehidupan Sehari-hari

Di lingkungan kerja, perilaku seperti ini juga tak kalah berisiko.

Ketika seseorang terlalu ngotot dengan pendapatnya sendiri, suasana tim jadi tidak nyaman.

Rekan kerja enggan berpendapat, kolaborasi jadi terhambat, dan produktivitas pun bisa menurun.

Padahal, kerja tim yang sehat butuh ruang untuk saling mendengar dan menghargai perbedaan.

Bagaimana Cara Menghadapinya?

Tapi bukan berarti kita tak bisa melakukan sesuatu. Ada beberapa langkah yang bisa membantu menjaga kewarasan dan tetap membangun komunikasi yang sehat:

1. Tetap tenang adalah kunci saat berhadapan dengan orang yang keras kepala atau ngotot ingin menang sendiri.

Memang rasanya ingin membalas, apalagi kalau kita merasa diperlakukan tidak adil.

Tapi membiarkan emosi mengambil alih justru bisa memperkeruh suasana dan membuat masalah makin rumit.

2. Gunakan fakta saat berdiskusi karena opini saja sering kali tidak cukup untuk meyakinkan orang yang keras kepala.

Membawa data, contoh nyata, atau pengalaman konkret bisa membantu membuat percakapan lebih objektif dan terarah.

3. Beri ruang untuk orang lain bicara karena kadang, yang mereka butuhkan bukan jawaban, tapi perasaan bahwa mereka ingin didengar.

Saat kita langsung menyela atau buru-buru menyampaikan pendapat, bisa jadi mereka merasa diabaikan. (*)

Editor : radar tuban digital
#insecurity #keras kepala #gagal #kurang percaya diri #kesehatan mental #Ngotot #ego #takut #konflik