Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Psikolog Sundari Indah Kupas Fenomena People Pleaser dan Dampaknya bagi Mental

Imanda Najwa Kirana Dewi • Jumat, 26 September 2025 | 23:05 WIB

 

Ilustrasi: menunjukan people pleaser yang tidak berani berkata tidak dan akhirnya kelelahan sendiri.
Ilustrasi: menunjukan people pleaser yang tidak berani berkata tidak dan akhirnya kelelahan sendiri.

RADARTUBAN – Fenomena people pleaser, atau individu yang kesulitan menolak permintaan orang lain, menjadi sorotan utama dalam sebuah diskusi menarik yang dilansir dari YouTube Grace Tahir pada Rabu, 28 Mei 2025.

People pleaser sendiri merupakan istilah informal untuk menggambarkan seseorang yang cenderung menomorsatukan kepentingan orang lain demi menjaga hubungan atau citra baik, meski harus mengabaikan dirinya sendiri.

Dalam diskusi tersebut, hadir psikolog Sundari Indah, M.Psi., lulusan Universitas Padjadjaran yang fokus pada isu karier, pengembangan diri, relasi, dan kesehatan mental. 

Dia aktif mengisi seminar, webinar, serta membagikan edukasi psikologi lewat media sosial.

Obrolan mendalam ini mengupas alasan di balik kebiasaan sulit menolak dan bagaimana membangun batasan diri yang sehat, baik di lingkungan profesional maupun personal.

Baca Juga: Selfish vs Self-Love: Perbedaan Sikap Egois dan Cinta Diri agar Kesehatan Mental dan Hubungan Sosial Tetap Seimbang

Topik ini relevan karena banyak orang tidak menyadari bahwa sikap terlalu ingin menyenangkan justru berdampak negatif, mulai dari kelelahan emosional hingga hilangnya identitas diri.

Kita bahkan sering menjawab “baik” ketika ditanya kabar, meski sebenarnya tidak demikian. Diskusi ini juga memberikan tips praktis yang bisa diterapkan sehari-hari.

Sundari Indah membagikan kisahnya sebagai mantan people pleaser yang pernah kesulitan menolak permintaan orang lain. Dia mengaku kerap menerima ajakan yang tidak penting hingga rela begadang mendengarkan curhatan teman.

“Dulu saya tidak enak hati berkata tidak, akhirnya saya sendiri yang kelelahan,” ungkapnya.

Menurutnya, keberanian bersikap jujur justru memperkuat relasi karena orang lain akan belajar menghormati waktu dan ruang pribadi.

“Menjaga diri bukan egois, tapi bentuk tanggung jawab,” tegasnya.

Pengalaman itu membuat Indah belajar menetapkan prioritas dan berani menolak secara halus.

Baginya, penolakan tidak selalu berarti memutus hubungan, melainkan menjaga diri tetap sehat.

“Saya biasanya menolak dengan memberikan opsi waktu lain. Jadi orang tetap merasa dihargai,” jelasnya.

Fenomena ini juga merajalela di dunia kerja. Banyak karyawan merasa bersalah jika tidak segera merespons pesan atasan di luar jam kerja, meski sebenarnya tidak mendesak. Indah menekankan pentingnya batasan sejak awal.

“Bos bisa saja mengirim pesan dengan catatan ‘balas besok saja ya’, ini sangat membantu,” katanya.

Menurutnya, bekerja profesional tidak diukur dari seberapa cepat merespons, melainkan dari kualitas hasil pekerjaan.

Baca Juga: Ambisi yang Terlalu Tinggi: Dampaknya pada Hidup dan Kesehatan Mental

Dengan batasan yang jelas, karyawan bisa lebih fokus, sehat secara mental, dan tetap produktif saat jam kerja berlangsung.

Budaya Indonesia yang menjunjung tinggi semangat tolong-menolong dan menjaga harmoni turut menjadi alasan mengapa banyak orang terjebak menjadi people pleaser.

Nilai positif ini, jika berlebihan, justru membuat seseorang merasa harus selalu berkata “iya”.

Indah menjelaskan bahwa membangun batasan diri bukanlah proses instan.

Melainkan tahapan panjang yang dimulai dari hal-hal kecil, misalnya berani menolak di kantor, sebelum meluas ke lingkungan keluarga dan pergaulan sehari-hari.

Diskusi juga menyinggung tantangan anak muda yang sulit mandiri akibat pola asuh orang tua yang terlalu mengontrol, bahkan dalam hal sederhana seperti meminta kamar tidur sendiri.

Kondisi ini membuat anak terbiasa menunggu arahan untuk mengambil keputusan, hingga tumbuh dengan rasa ragu dan takut salah.

“Akhirnya mereka jadi ragu dengan diri sendiri, takut salah, dan sulit mandiri,” ujarnya. Sebagai solusi, Indah menyarankan mencari lingkungan yang lebih mendukung agar anak muda bisa belajar bertanggung jawab dan menemukan jati diri tanpa terus dibayangi rasa bersalah.

Lebih lanjut, Indah meluruskan kesalahpahaman tentang self-love yang kerap disamakan dengan sikap egois.

“Self-love adalah kesadaran untuk berusaha menghadapi gangguan dan menerima apa pun hasilnya,” ujarnya.

Dia mencontohkan pengalamannya yang dulu merasa insecure karena tubuh kurus, hingga akhirnya menyadari bahwa itu adalah kekuatan, bukan kekurangan.

Menurutnya, mencintai diri sendiri bukan berarti memanjakan diri tanpa batas, melainkan berani mengakui kelemahan sekaligus menghargai kelebihan.

 “Melihat ke diri sendiri jauh lebih penting daripada melihat ekspektasi orang lain. Jika kita fokus pada diri sendiri, kita tidak akan menjadi bunglon yang terus mengikuti orang lain, yang pada akhirnya hanya akan melelahkan dan membuat kita kehilangan identitas diri," kata dalam pesan penutupnya yang sangat relevan.

Diskusi ini menjadi pengingat penting bahwa menghargai diri sendiri dan menetapkan batasan adalah kunci menjaga kesejahteraan mental. (*)

 

Editor : Yudha Satria Aditama
#universitas padjajaran #youtube #kesehatan mental #psikolog #grace #normal