Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Belajar Cinta Sehat Ala Gen Z: Putus Baik-Baik, hingga Seni Merelakan Mantan Ala Raditya Dika dan Timun Jelita

Imanda Najwa Kirana Dewi • Jumat, 3 Oktober 2025 | 18:10 WIB

Kisah cinta Gen Z yang akhirnya memilih merelakan dan melangkah dengan jalan masing-masing.
Kisah cinta Gen Z yang akhirnya memilih merelakan dan melangkah dengan jalan masing-masing.

RADARTUBAN – Ngomongin soal cinta memang nggak ada habisnya, apalagi kalau menyangkut generasi yang dikenal paling kompleks soal perasaan: Gen Z.

Komedian sekaligus penulis terkenal Raditya Dika bersama Mutiara Madea, vokalis band indie Timun Jelita, berbincang santai di kanal YouTube tentang tema yang akrab di telinga anak muda: putus, mantan, dan cara mencintai yang sehat.

Diskusi dibuka dengan membahas definisi “putus baik-baik”. Menurut Raditya Dika, perpisahan yang sehat terjadi ketika kedua pihak, meski masih menyimpan rasa, sama-sama sepakat bahwa perpisahan adalah jalan terbaik.

Kuncinya, tidak ada pihak yang merasa dirugikan dan keputusan tersebut pada akhirnya membuat keduanya lebih bahagia.

Baca Juga: Deretan Weton yang Bikin Sulit Melupakan Cinta Lama, tapi Gampang Dapat Hati Baru

Mutiara menambahkan, berteman dengan mantan hanya mungkin jika kedua belah pihak sudah benar-benar “clear” dan tidak menyimpan perasaan.

Jika salah satunya masih baper, itu dianggap tidak adil bagi pasangan baru. “Relate banget kan? Karena sering kali orang lupa kalau ada ‘orang ketiga’ yang kena imbasnya,” ujarnya.

Raditya Dika juga menekankan pentingnya konsep “closure” atau menutup buku dengan jelas. Menurutnya, hidup terlalu singkat untuk menyimpan dendam.

Baca Juga: Selfish vs Self-Love: Perbedaan Sikap Egois dan Cinta Diri agar Kesehatan Mental dan Hubungan Sosial Tetap Seimbang

Perpisahan idealnya berakhir damai tanpa permusuhan. “Ngeblok bisa jadi wajar kalau kamu disakitin parah banget, misalnya diselingkuhi atau ditipu.

Itu cara seseorang bereaksi terhadap sakit hati,” kata Raditya.

Diskusi berlanjut pada topik ekspektasi dalam hubungan. Raditya mengingatkan bahaya harapan berlebihan agar pasangan berubah.

“Jangan pernah nge-set harapan kalau dia akan berubah, karena itu ujung-ujungnya bikin sakit hati,” pesannya.

Ia menyarankan agar sejak awal tidak memulai hubungan dengan individu yang sudah jelas memiliki sifat buruk atau tidak ideal.

Sebagai penutup, keduanya sepakat bahwa level tertinggi dalam mencintai adalah merelakan.

Merelakan berarti benar-benar tulus menginginkan kebahagiaan orang yang dicintai, meski kebahagiaan itu harus ia temukan bersama orang lain. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Gen Z #perasaan #Closure #mantan #Timun Jelita #Putus baik baik #raditya dika