Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Psikiater Ungkap Cara Atasi Cemas: Fokus pada Aksi Nyata dan Rasa Penasaran, Bukan Keberanian

Imanda Najwa Kirana Dewi • Jumat, 17 Oktober 2025 | 03:05 WIB
Psikiater menjelaskan cara efektif mengatasi kecemasan bukan dengan keberanian, melainkan dengan rasa ingin tahu dan aksi nyata
Psikiater menjelaskan cara efektif mengatasi kecemasan bukan dengan keberanian, melainkan dengan rasa ingin tahu dan aksi nyata

RADARTUBAN – Dua psikiater ternama, dr. Jiemi Ardian dan dr. Andreas Kurniawan, mengungkap cara baru dalam menghadapi rasa takut dan cemas.

Dalam podcast Wellspring Conversations, keduanya membahas terkait melawan kecemasan bukan soal keberanian, melainkan soal rasa penasaran dan aksi nyata.

Kecemasan Tak Butuh Keberanian, Tapi Rasa Ingin Tahu

Menurut dr. Jiemi, kecemasan bersifat subjektif dan tidak bisa diatasi hanya lewat teori.

Ia mencontohkan, seseorang tidak akan bisa menguasai renang hanya dengan menonton video—harus benar-benar terjun ke air.

“Orang belajar menghadapi cemas itu harus lewat pengalaman langsung. Otak akan membangun memori penguasaan ketika kita benar-benar melakukannya,” jelasnya.

Dr. Andreas menambahkan, rasa penasaran (curiosity) adalah lawan sejati dari kecemasan.

“Kalau kita penasaran, kita akan bereksperimen, bukan defensif. Bukan takut salah, tapi ingin tahu,” ujarnya.

Baca Juga: Mengapa Rasa Takut Gagal Bisa Jadi Penghalang Kesuksesan? Psikolog Ungkap Penyebab dan Cara Atasinya

Atasi Penundaan dengan Hadapi Perasaan

Dalam diskusi itu, dr. Andreas juga menyoroti fenomena prokrastinasi atau kebiasaan menunda pekerjaan.

Ia menegaskan bahwa menunda bukan berarti malas, melainkan bentuk penghindaran terhadap perasaan negatif seperti takut gagal atau malu.

“Prokrastinasi itu bukan menunda pekerjaan, tapi menghindari perasaan. Begitu kita tahu apa yang dihindari, kita bisa mulai bertindak,” katanya.

Ubah “What If” Jadi “What Will I Do When”

Keduanya juga mengajak masyarakat untuk mengubah cara berpikir saat menghadapi situasi menegangkan.

Daripada bertanya, “Gimana kalau aku ditanya dan nggak bisa jawab?”, ubah menjadi “Apa yang akan aku lakukan kalau nggak bisa jawab?”

Pendekatan ini, kata mereka, membantu mengubah rasa takut menjadi tindakan yang realistis dan solutif.

Perbandingan Diri Itu Wajar, Asal Bijak

Terkait kebiasaan membandingkan diri, dr. Andreas menilai hal itu manusiawi selama dilakukan dengan kesadaran.

“Kita boleh membandingkan diri, tapi pilih pertarungan yang tepat (pick your battles),” ujarnya.

Ia mencontohkan, kalimat “Teman gue main padel” hanyalah fakta, tapi ketika dimaknai “Gue ketinggalan,” di situlah kecemasan muncul.

Kecemasan bukan musuh yang harus ditaklukkan, melainkan sinyal untuk memahami diri, menumbuhkan rasa ingin tahu, dan mengambil langkah kecil yang nyata. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#psikiater #kecemasan #keberanian #cemas #rasa takut