RADARTUBAN - Perselingkuhan adalah badai terbesar yang sering kali menghancurkan pondasi kepercayaan dan kebahagiaan dalam suatu hubungan.
Baik itu pacaran maupun pernikahan.
Lantas, apakah perselingkuhan bisa disembuhkan dan hubungan yang retak bisa diperbaiki kembali?
Menurut pakar hubungan, Coach Lex dePraxis, jawabannya adalah ya, tetapi prosesnya tidak mudah dan bukan sekadar soal memaafkan.
Dalam penjelasannya di podcast Sahabat Bicara, di kanal YouTube Cherryl Hatumesem pada Selasa (12/11), dia juga menekankan bahwa menyembuhkan hubungan membutuhkan komitmen bersama untuk berproses dan memperbaiki diri, baik dari pihak yang dikhianati maupun yang bersalah.
Seringkali, perselingkuhan tidak bermula dari niat jahat untuk mengkhianati, melainkan dari ketidakmampuan seseorang untuk mengekspresikan diri atau memenuhi kebutuhan emosionalnya dalam hubungan.
Awalnya, kedekatan dengan orang lain hanya sekadar mencari perhatian atau kenyamanan yang hilang di rumah.
Sayangnya, interaksi ini perlahan bisa berubah menjadi keintiman yang tak terkendali.
Intinya, selingkuh adalah cerminan dari masalah mendasar, terutama dalam komunikasi dan pemenuhan kebutuhan emosional (emotional needs) pasangan yang tak terpenuhi.
Motif ketidaksetiaan juga berbeda antara pria dan wanita.
Pria cenderung berselingkuh karena kurangnya kedekatan emosional dengan pasangan.
Sementara itu, wanita sering kali mencari perhatian di luar karena merasa tidak dihargai, kesepian, dan diabaikan, karena wanita sangat membutuhkan kekaguman dan perhatian untuk merasa bernilai.
"Ketika perempuan sudah malas berbicara, kamu dalam masalah besar,” tegas Coach Lex, mengingatkan bahwa komunikasi adalah nyawa sebuah hubungan.
Komunikasi yang jujur dan terbuka adalah kunci utama perbaikan.
Konflik harus dikelola dengan bijak, termasuk memberi jeda saat emosi memuncak.
Perjalanan untuk menyembuhkan hubungan sangat bergantung pada keseriusan kedua belah pihak:
1. Pihak yang Bersalah (Pelaku)
Harus menunjukkan penyesalan yang tulus melalui tindakan nyata.
Dia juga perlu menerima konsekuensi sosial dan emosional untuk menyadarkan diri agar tidak mengulangi kesalahan.
2. Pihak Korban
Perlu fokus pada penguatan diri, meningkatkan harga diri, dan kemandirian.
Peningkatan kualitas diri korban ini bisa menjadi faktor yang membuat pelaku sadar akan nilai pasangannya dan menjadi takut untuk kehilangan.
Coach Lex juga menyarankan rutinitas sederhana untuk membangun kembali keintiman dengan menyediakan waktu 15-20 menit setiap hari untuk mengobrol non-konflik, bercanda, atau berbagi perasaan terdalam.
Hal ini penting untuk mengembalikan pondasi hubungan yang sehat.
Di era handphone dan media sosial, penting bagi pasangan untuk hadir secara penuh dan melakukan komunikasi aktif.
Belajarlah berkomunikasi tanpa berharap pasangan dapat membaca pikiran (mind reading). Memberi instruksi yang mudah dimengerti dan menghargai usaha pasangan juga menjadi benteng agar hubungan tidak retak.
Perselingkuhan memang meninggalkan luka yang berat, tetapi bukan berarti akhir dari segalanya.
Jika kedua belah pihak bersedia berproses dengan kesadaran dan keikhlasan, hubungan bisa dibangun kembali menjadi lebih kuat dari sebelumnya.
Jika hubungan terancam putus karena perselingkuhan, konseling pernikahan atau psikoterapi adalah solusi profesional yang sangat direkomendasikan untuk memperbaiki dan memperkuat kembali ikatan cinta. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama