Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Scroll, Scroll, Tiba-Tiba Jam 2 Pagi: Studi Psikologi Bongkar Rahasia Gelap di Balik Kebiasaan Gen Z di Medsos!

Siska Yudianti • Sabtu, 25 Oktober 2025 | 21:00 WIB
Fenomena scroll tanpa akhir
Fenomena scroll tanpa akhir

RADARTUBAN – Kamu pernah niat buka TikTok cuma lima menit, eh tahu-tahu udah dua jam berlalu? Tenang, kamu nggak sendiri.

Fenomena scroll tanpa akhir ini ternyata bukan sekadar kebiasaan iseng, tapi punya dasar psikologis yang dalam.

Sebuah studi bertajuk “One Social Media, Distinct Habitus: Generation Z and Their Digital Behavior” baru-baru ini mengungkap kenapa generasi Z seolah “terjebak” di dunia digital sampai lupa waktu.

1. Otak Gen Z Ketagihan Reward Instan

Menurut penelitian itu, Gen Z cenderung mencari instant gratification alias kepuasan cepat.

Tiap kali menemukan konten menarik, otak langsung melepas dopamin — hormon bahagia yang sama munculnya saat kita makan makanan favorit atau dapat pujian.

Efeknya mirip kayak ngemil keripik: begitu mulai, susah berhenti.

“Platform seperti TikTok dan Instagram memang sengaja dirancang untuk memicu respons dopamin ini,” tulis peneliti.

2. FOMO: Takut Ketinggalan Tren

Generasi Z hidup di era serba real time. Ada tren baru, meme lucu, atau gosip viral, rasanya wajib tahu dan ikut nimbrung. Itulah FOMO (Fear of Missing Out).

Menurut studi itu, 73 persen Gen Z mengaku gelisah kalau nggak buka media sosial lebih dari tiga jam.

Ini bukti keterikatan emosional mereka terhadap dunia digital yang sudah jadi bagian dari identitas sosial.

3. Algoritma: Si “Psikolog Digital”

Kalau FYP kamu terasa tahu banget selera dan jam aktifmu, itu bukan kebetulan.

Algoritma kini bekerja seperti psikolog yang mempelajari perilaku dan minat pengguna.

“Media sosial modern membentuk habitus digital Gen Z — kebiasaan berpikir dan berinteraksi yang dikondisikan oleh algoritma,” tulis studi tersebut.

Jadi, setiap scroll bisa jadi bukan keputusan sadar, tapi hasil ‘program’ tak terlihat yang menahan kita di layar.

4. Media Sosial = Panggung Diri

Bagi banyak Gen Z, media sosial bukan cuma hiburan, tapi ruang ekspresi diri.

Dari gaya berpakaian, opini, sampai playlist Spotify, semua dikurasi untuk menunjukkan versi terbaik diri mereka.

Tapi di balik itu ada tekanan: perbandingan sosial. Ketika melihat orang lain tampak lebih sukses atau bahagia, muncul rasa “nggak cukup baik” tanpa disadari.

5. Dunia Nyata Cuma “Jeda” dari Layar

Banyak Gen Z merasa dunia nyata cuma selingan di antara sesi scrolling.

Akibatnya, waktu produktif menurun, fokus gampang pecah, dan tidur pun terganggu.

Peneliti menyebut kondisi ini sebagai passive engagement fatigue — kelelahan mental karena terus konsumsi konten tanpa tujuan.

“Masalahnya bukan kurang disiplin, tapi karena sistem digital memang didesain untuk mempertahankan perhatian pengguna,” tegas studi itu.

6. Solusi: Mindful, Bukan Detox

Para ahli kini menyarankan digital mindfulness, bukan digital detox. Artinya, bukan berhenti total dari media sosial, tapi sadar kapan dan kenapa kamu memakainya.

Beberapa langkah simpel:

- Tentukan waktu khusus buat buka medsos

- Unfollow akun yang bikin stres

- Aktifkan fitur screen time tracker

- Nikmati waktu tanpa layar setiap hari

Dunia Digital Itu Cermin, Bukan Realita

Scrolling tanpa henti bukan sekadar candaan “anak TikTok”. Ini cermin bagaimana generasi Z berinteraksi dengan dunia yang hiperaktif dan serba cepat.

Teknologi memang bagian dari identitas zaman ini, tapi kesadaran digital jadi kunci agar kita tetap mengendalikan layar — bukan dikendalikan olehnya.

Jadi, pertanyaannya sekarang: kamu yang pakai media sosial, atau media sosial yang lagi pakai kamu? (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Fenomena scroll tanpa akhir #Gen Z #fomo #tren #media sosial #dopamin #tiktok #alogaritma