RADARTUBAN - Dalam era serba cepat ini, banyak individu yang menghadapi tekanan hidup, ketidakstabilan ekonomi, hingga kehilangan, sehingga memicu munculnya luka emosional yang terpendam.
Menanggapi kondisi tersebut, praktik menulis jurnal kini semakin diakui bukan sekadar kebiasaan harian, melainkan sebuah metode terapi mandiri yang efektif untuk mencapai penyembuhan mental.
Informasi ini diungkap oleh seorang psikolog dan certified journaling therapist, Wesmira Parasuti Mia, dalam sebuah podcast yang tayang di kanal YouTube Cherryl Hatumesen pada Rabu (13/8), yang menekankan pentingnya mengeluarkan isi pikiran dan perasaan ke dalam tulisan.
Menurut Mia, jurnaling adalah proses katarsis untuk mengeluarkan isi pikiran dan perasaan.
Praktik ini diyakini mampu meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan mental. Secara khusus, menulis dengan tangan (pena dan kertas) memiliki makna terapeutik yang lebih besar dibandingkan mengetik.
"Penyaluran energi melalui gerakan tangan inilah yang pada akhirnya membuat dia memiliki makna terapeutik itu sendiri," ujar Mia.
Gerakan kinestetik saat menulis tangan memicu koneksi antara otak dengan gerakan tangan, menghasilkan penyaluran energi yang lebih besar dan pelampiasan stres yang lebih baik.
Jurnaling yang ideal bahkan tidak selalu berupa tulisan. Bagi mereka yang kesulitan memulai, mencoret-coret (doodling) juga dianggap sebagai bagian dari proses terapi.
Proses penyembuhan luka emosional, yang seringkali berasal dari pengalaman masa lampau, harus dimulai dengan pengakuan. Ketika seseorang merasa tidak nyaman saat menuliskan lukanya, hal itu menandakan bahwa lukanya belum selesai.
Mia menyatakan bahwa mengakui dan menuliskan perasaan secara spesifik dan konkret merupakan langkah awal yang krusial.
"Menuliskan dengan spesifik dan konkret apa yang dirasakan itu sebenarnya kurang lebih sudah 50% setengah dari langkah penyembuhan," jelasnya.
Tujuan utama dari praktik jurnaling adalah mencapai kesadaran diri (self-awareness).
Dengan menulis, individu diajak untuk memahami apa yang sebenarnya mereka rasakan dan apa yang perlu diperbaiki.
Selain itu, jurnaling menawarkan perspektif orang ketiga. Ketika seseorang membaca kembali apa yang ditulisnya, ia bisa melihat masalah dengan lebih jernih.
"Jurnaling itu sebenarnya kayak kita menceritakan diri kita sendiri dan kita mengadakan rapat pleno sama diri kita sendiri," ungkap Mia.
Mia juga mengingatkan bahwa proses healing tidak selalu linear. Akan ada fase maju, mundur, atau bahkan diam.
Namun, kunci dari jurnaling yang berhasil bukanlah mencapai solusi instan, melainkan melatih kemampuan untuk menerima (acceptance) dan melepaskan (let go) terhadap hal-hal yang berada di luar kendali.
Dengan disiplin dan kesabaran (praktik dan kesabaran), setiap orang dapat menjadikan jurnaling sebagai kebiasaan baru untuk meraih ketenangan batin. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni