RADARTUBAN - Kemampuan komunikasi dan public speaking merupakan soft skill penting yang tidak hanya krusial dalam dunia kerja, tetapi juga menjadi fondasi utama dalam membangun relationship yang sehat dan luar biasa dalam lingkungan keluarga inti.
Kualitas komunikasi di rumah tangga terbukti menjadi dasar pencegahan luka pengasuhan serta pembentukan generasi yang berkualitas.
Dalam sebuah podcast yang tayang di kanal YouTube Cherryl Hatumesen pada Kamis (6/11), pakar pelatihan dan konseling keluarga, Coach Stefvy Pattikawa, menyoroti bahwa banyak masalah sosial dan psikologis, termasuk kasus fatherless (kehilangan figur ayah) dan perceraian, berakar dari kegagalan komunikasi di rumah tangga.
Dalam mendidik anak, pola komunikasi tidak boleh statis, melainkan harus menyesuaikan perkembangan usia.
Anak berusia 6 hingga 9 tahun sangat membutuhkan kehadiran fisik dan emosional kedua orang tua, yang dalam psikologi disebut sebagai "Tungku Cinta" (Tender Love and Care atau TLC).
Sayangnya, saat ini banyak terjadi ketidakseimbangan, di mana peran ibu terlalu dominan sementara peran ayah hilang atau tidak berfungsi.
Isu fatherless muncul karena ayah tidak memberikan cinta yang seimbang, padahal kehangatan dari figur ayah dan ibu harus balance.
"LGBT itu 95% dasarnya adalah fatherless," tegas Coach Stefvy.
Kondisi ini menjadi peringatan keras bagi para ayah untuk segera memperbaiki kualitas hubungan dengan anak-anak mereka.
Orang tua sering kali beranggapan bahwa kemampuan komunikasi adalah tentang memberikan arahan atau berbicara (speaking).
Padahal, inti dari komunikasi yang baik dalam keluarga adalah mendengarkan (listening).
Anak-anak butuh untuk didengarkan tanpa penghakiman.
"Anak itu butuh listening, bukan butuh speaking. Dia enggak butuh direction yang dia butuhkan adalah jangan bantah saya, dengerin dulu saya ngomong sampai selesai," ujar Coach Stefvy.
Kesalahan umum yang dilakukan orang tua adalah memarahi atau mengoreksi anak di depan umum.
Hal ini menyebabkan trauma emosional (mental block) pada anak.
Seharusnya, teguran dilakukan empat mata dengan nada bicara yang tenang, bukan dengan suara tinggi yang justru diterima otak anak sebagai tekanan, bukan kemarahan.
Bukan hanya dengan anak, komunikasi yang berlandaskan cinta juga krusial dalam pernikahan.
Keseimbangan antara mengampuni dan bersyukur adalah kunci kebahagiaan.
Jika terjadi konflik, Coach Stefvy menyarankan agar suami atau istri berani meminta maaf pertama kali, melepaskan ego demi menjaga kebahagiaan rumah tangga.
"Apapun yang terjadi mau saya salah, dia yang salah, saya datang minta maaf pertama kali," ungkapnya.
Sikap ini penting untuk mencegah timbulnya luka batin, baik pada pasangan maupun anak yang melihat konflik.
Penting ditekankan bahwa tidak ada kata terlambat bagi orang tua untuk berubah dan memutus rantai (break the chain) pengasuhan yang buruk dari generasi sebelumnya, sebab dengan membangun komunikasi yang benar hari ini, orang tua sedang mempersenjatai anak untuk menghadapi masa depan yang kompleks. (*/tia)
Editor : radar tuban digital