RADARTUBAN – Terdapat sebuah penelitian terbaru yang menunjukkan bahwa mengonsumsi kopi dalam takaran tertentu berpotensi memberikan manfaat signifikan bagi kesehatan.
Terutama bagi pasien yang menderita gangguan psikiatri berat.
Hasil riset yang diterbitkan dalam jurnal bergengsi BMJ Mental Health ini secara spesifik menunjukkan bahwa kebiasaan mengonsumsi tiga hingga lima cangkir kopi per hari berasosiasi dengan perlambatan penuaan biologis pada tingkat yang setara dengan menjadi lima tahun lebih muda secara biologis.
Temuan yang sangat menarik tersebut berhubungan erat dengan telomer, yaitu segmen DNA struktural yang terletak di ujung kromosom dan memiliki fungsi vital untuk melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan.
Patut dicatat bahwa individu yang didiagnosis dengan gangguan psikiatri serius.
Seperti skizofrenia, gangguan bipolar, atau depresi mayor, umumnya memiliki telomer yang lebih pendek.
Panjang telomer yang tereduksi ini merupakan indikator biologis yang menandakan proses penuaan yang lebih cepat dan juga mengindikasikan peningkatan risiko kematian dini yang diperkirakan dapat terjadi sekitar 15 tahun lebih cepat dibandingkan dengan populasi umum.
Studi observasional tersebut melibatkan sejumlah 436 partisipan dengan rentang usia antara 18 hingga 65 tahun, peneliti yang dilakukan berhasil mengamati bahwa kelompok peserta yang secara rutin mempertahankan pola konsumsi kopi harian sebanyak 3 hingga 5 cangkir memiliki panjang telomer yang setara dengan subjek yang secara biologis dinilai lima tahun lebih muda dari usia kronologis mereka.
Sebaliknya, partisipan yang tidak mengonsumsi kopi sama sekali menunjukkan adanya pemendekan telomer yang secara statistik lebih signifikan.
Namun, studi ini memberikan catatan penting yaitu manfaat anti penuaan biologis ini hanya teramati pada tingkat konsumsi moderat, partisipan yang mengonsumsi kopi melebihi lima cangkir setiap hari tidak menunjukkan adanya efek perpanjangan usia biologis yang terukur.
Monica Aas, PhD, seorang peneliti dari King’s College London, Inggris, memberikan pernyataan mengenai hasil tersebut, yang dikutip oleh Medical News Today pada Sabtu (6/12).
Dia menyatakan bahwa temuannya tersebut menunjukkan konsumsi kopi terkait dengan usia biologis yang lebih muda, namun manfaat tersebut hilang jika seseorang mengonsumsi kopi terlalu banyak.
Lebih lanjut, peneliti memberikan peringatan bahwa konsumsi kopi yang berlebihan justru berpotensi memperburuk kualitas tidur dan meningkatkan stres oksidatif dalam tubuh, yang pada akhirnya dapat mengakibatkan percepatan penuaan seluler.
Para peneliti berpendapat bahwa efek positif yang dihasilkan kopi berasal dari konsentrasi antioksidan yang terkandung di dalamnya, seperti asam klorogenat dan trigonelin.
Senyawa-senyawa bioaktif ini diduga berperan penting dalam melindungi materi genetik (DNA) dari kerusakan dan membantu mengurangi peradangan sistemik.
Michelle Routhenstein, seorang ahli gizi yang berfokus pada penyakit jantung dan tidak terlibat dalam penelitian tersebut, menguatkan dugaan ini.
Beliau menjelaskan bahwa kopi mengandung senyawa bioaktif, terutama asam klorogenat dan trigonelin, yang berfungsi sebagai antioksidan, menetralkan radikal bebas, dan mengaktifkan jalur pertahanan sel untuk melindungi DNA dari kerusakan oksidatif.
Routhenstein menambahkan bahwa manfaat kesehatan dari kopi cenderung lebih banyak berasal dari polifenol, yaitu senyawa tumbuhan alami yang ada dalam kopi, daripada efek yang ditimbulkan oleh kafein itu sendiri.
Meskipun hasil penelitian ini terlihat sangat menjanjikan, para peneliti menekankan bahwa studi ini bersifat observasional.
Oleh karena itu, temuan ini belum dapat digunakan untuk membuktikan hubungan sebab-akibat secara definitif antara konsumsi kopi dan perlambatan penuaan.
Mereka menyimpulkan perlunya penelitian lanjutan yang lebih terkontrol untuk memastikan dan memvalidasi peran spesifik kopi dalam proses memperlambat penuaan biologis. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama