RADARTUBAN - Dinamika hubungan asmara dan kesehatan mental perempuan modern kini menjadi sorotan seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya keseimbangan energi diri.
Fenomena perempuan mandiri yang rentan mengalami kelelahan emosional hingga gangguan kesehatan fisik dibahas dalam podcast Uncensored with Andini Effendi di kanal YouTube Cauldron Content yang tayang pada Kamis (13/11).
Dalam perbincangan tersebut, Mega Clara Kartika, C.Ht, seorang hypnotherapist dan femininity coach, menyoroti kecenderungan perempuan menekan sisi alamiah mereka demi memenuhi tuntutan dunia modern yang serba cepat.
Banyak perempuan saat ini terjebak dalam peran yang terlalu dominan secara maskulin, seperti selalu ingin memegang kendali dan sulit menerima bantuan orang lain.
Kondisi ini sering kali berakar dari trauma masa kecil atau pola asuh yang menuntut kesempurnaan.
Akibatnya, ketidakseimbangan energi ini tidak hanya berdampak pada sulitnya menemukan pasangan yang tepat, tetapi juga memicu gangguan kesehatan fisik seperti penyakit autoimun atau ketidakseimbangan hormon akibat hormon kortisol (stres) yang tinggi.
Dalam tinjauan tersebut, ditekankan bahwa pasangan hidup sering kali berperan sebagai cermin dari kondisi batin seseorang.
Ketika seorang perempuan terus-menerus menarik tipe pasangan yang tidak bertanggung jawab atau low effort, hal itu bisa jadi merupakan refleksi dari energinya sendiri yang belum pulih.
"Pasangan kita itu adalah orang yang jadi ultimate mirror, kita akan ngaca sama dia," ujar Mega.
Selain masalah asmara, perbincangan ini menyoroti bagaimana tekanan sosial memaksa perempuan untuk mengabaikan kebutuhan emosionalnya demi label independent woman.
Kebiasaan mengabaikan perasaan ini sering kali berujung pada kondisi depresi atau kelelahan kronis.
"Kalau perempuan suka supress perasaannya, dia akan attract laki-laki dengan kualitas woundit maskulin yang sangat avoid," jelasnya.
Penyembuhan luka batin menjadi kunci utama untuk mengembalikan fitrah perempuan agar dapat hidup lebih tenang dan sehat.
Dengan mengenali siklus tubuh dan berani mengekspresikan perasaan secara jujur, seorang perempuan dapat membangun hubungan yang lebih harmonis.
Terkait keterhubungan emosional ini, Mega menambahkan, terkait hubungan emosional.
"Kalau mau connect sama Tuhan kita harus pakai feminine energy kan, connect sama Tuhan pakai rasa," ungkapnya.
Pada akhirnya, keseimbangan antara memberi dan menerima (the power of receiving) menjadi fondasi penting bagi kesejahteraan perempuan.
Menjadi mandiri tetap diperlukan, namun kemampuan untuk melepaskan kontrol dan menerima dukungan dari lingkungan sekitar adalah kekuatan sejati yang sering kali terlupakan di era modern saat ini. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama