RADAR TUBAN – Pagi hari selalu hadir dengan janji manis. Mata terbuka, pikiran segar, dan niat produktif langsung tersusun rapi di kepala.
Mulai dari olahraga ringan, membereskan kamar, hingga menyusun rencana hidup yang terlihat ambisius dan penuh harapan—semua tampak begitu mungkin dilakukan saat mentari baru menyapa.
Namun, kenyataan sering berkata lain. Baru hitungan menit berlalu, seluruh rencana itu kandas begitu saja.
Kasur terasa lebih hangat dari biasanya, bantal mendadak menjadi sahabat paling setia, dan selimut seolah memiliki kekuatan magnet yang menarik tubuh kembali.
“Rebahan sebentar saja,” bisik hati dengan penuh pembenaran.
Baca Juga: Goodbye Alarm Berisik! Rahasia Bangun Pagi Alami Tanpa Paksaan dan Tanpa Stres
Sebentar yang dimaksud pun sering kali kehilangan makna. Lima menit berubah menjadi satu jam, bahkan lebih.
Fenomena ini bukan kasus tunggal. Hampir semua orang pernah mengalaminya—dari pelajar, mahasiswa, hingga para pekerja. Bangun pagi dengan semangat tinggi, lalu kembali rebahan dengan alasan “mengumpulkan energi”.
Menariknya, tak sedikit pula yang menganggap rebahan sebagai bagian dari proses produktif. Klaim tersebut terdengar meyakinkan, meski hasil nyatanya kerap masih menjadi tanda tanya.
Baca Juga: Dilatih Disiplin dan Bangun Pagi, Kebiasaan Baru Anak-Anak di Asrama Sekolah Rakyat
Dalam sudut pandang psikologi, kebiasaan ini berkaitan dengan kelelahan mental dan fisik akibat rutinitas harian.
Otak membutuhkan waktu transisi dari mode istirahat menuju mode aktif. Tanpa disadari, tubuh memilih jalan pintas: kembali berbaring.
Maka, jika pagi ini kamu kembali rebahan setelah bangun dengan niat besar, tak perlu merasa bersalah. Kamu tidak sendirian.
Fenomena ini sudah lama terjadi dan tampaknya akan terus berlanjut—setidaknya sampai kasur kehilangan daya tariknya, atau sampai kita benar-benar siap bangkit dan memulai hari dengan nyata. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni