RADARTUBAN – Tren mengonsumsi suplemen kolagen demi mendapatkan kulit glowing dan awet muda kian menjamur.
Namun, masyarakat diminta tidak sekadar ikut-ikutan tren tanpa memahami esensi nutrisi yang dibutuhkan tubuh.
Pakar kesehatan Felix Zulhendri mengungkapkan bahwa sumber kolagen terbaik sebenarnya bukan berasal dari botol kemasan, melainkan dari makanan utuh (real food) yang sering dijumpai dalam kuliner tradisional Indonesia.
Kolagen Alami dari Makanan Tradisional
Dalam penjelasannya di kanal YouTube Malaka Project, Felix menekankan pentingnya protein hewani sebagai sumber utama kolagen.
Uniknya, kolagen tidak ditemukan pada daging murni, melainkan pada jaringan ikat seperti tulang muda (cartilage) dan urat (tendons).
“Kalau teman-teman makan daging yang ada bagian kenyal dan susah digigit, itulah kolagen alami.
Makanya saya sangat suka masakan tradisional Indonesia seperti soto Betawi atau sop iga,” ujarnya dalam narasi video tersebut.
Soto Betawi dan Kikil Disebut Gudang Kolagen
Menurut Felix, soto Betawi atau masakan berkuah yang menggunakan kikil dan urat adalah "gudang" kolagen yang luar biasa.
Selain mengandung kolagen untuk struktur kulit, masakan tersebut juga memberikan asam amino esensial dari dagingnya dan lemak hewani yang baik bagi tubuh.
Kritik terhadap Suplemen Kolagen
Ia justru memberikan catatan kritis terhadap produk suplemen kolagen yang banyak beredar di pasaran.
Banyak dari produk tersebut dikategorikan sebagai ultra-processed foods yang mengandung bahan tambahan seperti pemanis buatan, pewarna, hingga pengawet.
“Kadang kita mau sehat dan glowing dengan minum suplemen, tapi malah terpapar bahan kimia dan gula tinggi. Itu justru kontraproduktif karena gula bisa memicu inflamasi yang merusak kualitas kulit,” tegas dia.
Kulit Sehat Butuh Gaya Hidup Holistik
Lebih lanjut, Felix memaparkan bahwa kulit yang sehat tidak hanya urusan kolagen semata.
Ada faktor holistik yang saling berkaitan, mulai dari pola tidur, olahraga, hingga hidrasi yang cukup.
Kebiasaan buruk seperti merokok, vaping, dan konsumsi gula berlebih disebut sebagai biang kerok penuaan dini atau keriput, bahkan pada usia 20-an.
“Kesehatan itu tidak terpisah-pisah. Kalau kita perbaiki gaya hidup secara keseluruhan, kulit akan mengikuti.
Jadi, daripada mengejar sesuatu yang too good to be true dalam kemasan, lebih baik kembali ke pola makan yang benar dan gaya hidup sehat,” pungkasnya.
Pilihan Alami dan Lebih Ekonomis
Bagi warga yang ingin kulitnya tetap kencang, tampaknya menu soto kikil atau sop buntut langganan bisa menjadi pilihan investasi kecantikan yang lebih alami dan ekonomis dibandingkan suplemen mahal yang belum tentu minim bahan kimia. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni