RADARTUBAN – Pernahkah Anda menelepon seseorang secara tiba-tiba, namun panggilan tersebut tidak diangkat?
Jangan buru-buru merasa diabaikan atau menganggap mereka sombong. Bisa jadi ada alasan psikologis yang melatarbelakanginya.
Fenomena enggan menjawab telepon mendadak kini semakin umum, khususnya di kalangan generasi muda.
Istilah phone anxiety atau kecemasan saat menerima panggilan telepon kerap dikaitkan dengan kebiasaan ini.
Mengutip YourTango, sikap tersebut bukan semata bentuk penghindaran, melainkan kombinasi preferensi pribadi, karakter dasar, serta cara seseorang menjaga energi mentalnya.
Para ahli dari Child Mind Institute juga menjelaskan bahwa percakapan melalui telepon dapat memecah konsentrasi, terutama saat seseorang sedang bekerja, menyetir, atau fokus pada aktivitas lain.
Lantas, apa saja alasan psikologis di balik sikap “anti-telepon” ini? Berikut delapan poin yang perlu Anda pahami.
1. Tidak Nyaman dengan Hal Serba Mendadak
Bagi sebagian orang, kejutan bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Panggilan tanpa pemberitahuan sering kali memicu kecemasan dengan pikiran seperti, “Ada apa ya?” atau “Apakah ini kabar buruk?”
Pakar psikologi Bryan E. Robinson menjelaskan bahwa ketidakpastian dapat memicu respons cemas, terutama pada individu yang terbiasa hidup teratur dan membutuhkan rasa aman sebelum berkomunikasi.
2. Karakter Introvert yang Menjaga Energi
Seorang introvert bukan berarti antisosial. Mereka hanya lebih menghargai kualitas interaksi dibanding kuantitas. Telepon mendadak kerap terasa seperti gangguan terhadap waktu pribadi.
Energi sosial yang terbatas membuat mereka lebih nyaman membalas pesan teks atau menelepon kembali saat kondisi mental sudah siap.
3. Butuh Waktu untuk “Loading” Pikiran
Tidak semua orang mampu langsung merespons percakapan secara spontan. Banyak yang membutuhkan waktu untuk menyusun pikiran atau memahami konteks pembicaraan.
Tanpa informasi awal, mengangkat telepon bisa terasa seperti menghadapi ujian tanpa persiapan, yang berujung pada rasa grogi.
4. Menjaga Personal Boundaries
Di era digital yang serba cepat, menjaga energi sama pentingnya dengan menjaga waktu. Sebagian orang sadar kapan harus menolak panggilan, terutama saat sedang stres atau kelelahan.
Sikap ini merupakan bentuk kesadaran diri agar mereka dapat hadir secara penuh saat komunikasi benar-benar dibutuhkan.
5. Memiliki Jadwal yang Teratur
Individu yang disiplin memandang rutinitas sebagai kunci produktivitas. Panggilan mendadak dianggap dapat mengganggu alur kerja maupun waktu istirahat yang telah dirancang.
Pesan singkat dinilai lebih fleksibel karena dapat dibalas sesuai waktu luang.
6. Overthinking dan Kekhawatiran Berlebih
Bagi seorang overthinker, dering telepon bisa memicu berbagai skenario terburuk di kepala. Tanpa ekspresi wajah atau bahasa tubuh, komunikasi lewat telepon terasa kurang memiliki petunjuk emosional.
Mengabaikan panggilan sering kali dianggap cara paling aman untuk menghindari kecemasan akibat ketidakpastian.
7. Trauma Masa Lalu
Faktor psikologis masa lalu juga dapat berperan. Penelitian pada 2020 menunjukkan bahwa trauma masa kecil yang belum terselesaikan dapat memicu kecemasan tinggi saat dewasa.
Bagi sebagian orang, dering telepon dapat memicu respons fight or flight. Jantung berdebar dan pikiran menegang karena mengaitkan panggilan dengan pengalaman buruk sebelumnya. Tidak menjawab telepon menjadi mekanisme perlindungan diri secara otomatis.
8. Tidak Menyukai Basa-basi
Sebagian orang merasa percakapan ringan tanpa tujuan jelas dapat menguras energi emosional. Journal of Personality and Social Psychology menyebutkan bahwa banyak individu mendambakan percakapan yang lebih bermakna.
Jika telepon hanya berisi obrolan tanpa arah, mereka cenderung menunggu pesan dengan maksud yang lebih jelas.
Hargai Ruang Privat
Alih-alih memberi label sombong pada teman yang sulit dihubungi lewat telepon, ada baiknya memahami bahwa setiap orang memiliki preferensi komunikasi yang berbeda.
Solusi sederhana yang bisa dilakukan adalah mengirim pesan singkat terlebih dahulu sebelum menelepon. Cara ini memberi ruang bagi penerima untuk mempersiapkan diri, sehingga komunikasi dapat berlangsung lebih nyaman dan efektif. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama