RADARTUBAN - Merasakan kondisi di mana keberadaan diri tidak dihargai oleh orang-orang terdekat sering kali menjadi pengalaman yang sangat menyakitkan bagi siapa pun.
Hal tersebut terjadi dalam lingkup keluarga, misalnya ketika orang tua atau saudara kandung tidak pernah mau mendengarkan pendapat atau menghargai setiap usaha yang Anda lakukan.
Dampak Kurangnya Apresiasi dalam Keluarga
Berdasarkan tinjauan ilmu psikologi, pola-pola perlakuan seperti ini sangat umum ditemukan dan dapat membentuk kepribadian seseorang seiring berjalannya waktu.
Terdapat tujuh jenis perilaku yang sering ditunjukkan oleh individu yang merasa tidak dihargai oleh keluarganya.
Enggan Membicarakan Prestasi Diri
Ciri yang pertama adalah mereka cenderung enggan untuk membicarakan pencapaian atau prestasi yang berhasil diraih kepada anggota keluarga.
Kondisi ini muncul karena mereka menyadari bahwa berbagi kabar baik tidak akan membuahkan reaksi positif atau apresiasi yang berarti dari rumah.
Ketika orang-orang terdekat terus-menerus mengabaikan keberhasilan Anda, secara perlahan muncul keyakinan terselubung bahwa prestasi tersebut tidak memiliki nilai.
Cenderung Mengalami Overthinking
Perilaku kedua adalah kecenderungan untuk menjadi individu yang terlalu banyak berpikir atau melakukan overthinking terhadap segala sesuatu.
Kurangnya validasi dari keluarga membuat seseorang mulai meragukan kapasitas diri dan sulit memprediksi respon yang akan diterima, apakah berupa pujian atau kritik.
Otak kemudian melatih diri untuk menganalisis setiap skenario secara berlebihan dengan harapan dapat meminimalisir rasa kecewa di masa depan.
Berusaha Terlalu Keras dalam Hubungan
Ciri ketiga adalah mereka sering kali terlalu memaksakan diri atau melakukan pengorbanan berlebih dalam sebuah jalinan hubungan dengan orang lain.
Individu yang tumbuh dengan perasaan tidak dianggap cenderung berusaha sangat keras untuk membantu orang lain demi mendapatkan pengakuan yang mereka idamkan.
Mereka bertransformasi menjadi sosok yang sangat bisa diandalkan bahkan hingga menguras energi sendiri, hanya untuk mengisi kekosongan apresiasi dari keluarga.
Kesulitan Menerima Pujian
Perilaku keempat yang sering terlihat adalah adanya kesulitan yang cukup besar dalam menerima pujian tulus dari orang di luar lingkaran keluarga.
Pujian dari orang lain sering kali terasa membingungkan, tidak nyaman, atau bahkan dianggap sebagai sesuatu yang tidak bersungguh-sungguh karena tidak terbiasa mendapatkannya.
Seseorang mungkin akan mengalihkan pujian tersebut dengan lelucon atau justru mengabaikannya karena merasa tidak layak mendapatkan penghargaan tanpa pamrih.
Menjadi Sangat Mandiri Secara Ekstrem
Kelima, perasaan tidak dihargai dapat mendorong seseorang untuk menjadi pribadi yang sangat mandiri secara ekstrem dalam segala urusan.
Muncul kepercayaan bahwa bergantung pada orang lain hanya akan berujung pada kekecewaan, sehingga mereka memilih melakukan semuanya sendiri tanpa bantuan.
Kemandirian yang berlebihan ini sebenarnya adalah cara mereka membuktikan bahwa mereka mampu bertahan tanpa adanya dukungan dari lingkungan terdekat.
Menghindari Konflik dengan Segala Cara
Ciri keenam adalah kecenderungan untuk menghindari konflik atau pertengkaran dengan cara apa pun demi menjaga ketenangan semu.
Pengalaman diabaikan saat mengutarakan perasaan membuat seseorang merasa bahwa berbicara atau membela diri tidak akan memberikan perubahan apa pun.
Akibatnya, saat dewasa mereka lebih memilih menyembunyikan perasaan sebenarnya atau menyetujui hal yang tidak disukai hanya untuk menghindari perselisihan.
Mengejar Validasi dari Luar
Perilaku terakhir adalah pengejaran validasi eksternal secara aktif dari berbagai sumber di luar lingkungan tempat tinggal mereka.
Karena apresiasi sangat langka didapatkan di rumah, mereka mulai mencarinya di lingkungan kerja, pertemanan, hubungan asmara, hingga media sosial.
Persetujuan dari dunia luar menjadi target utama karena mereka tidak pernah mendapatkan asupan dukungan yang cukup dari tempat yang seharusnya paling penting. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni