RADARTUBAN – Merantau ke luar negeri tak selamanya seindah foto postingan Instagram. Itulah yang dirasakan Evan Haidar, pemuda asal Gresik yang kini sukses berkarir sebagai HR Ops Specialist di Tesla, Jerman.
Dibalik kesuksesannya menembus perusahaan raksasa milik Elon Musk tersebut, Evan menyimpan kisah kelam tentang perjuangan melawan depresi hingga fase kehilangan jati diri di tanah perantauan.
Dalam obrolan hangat di kanal YouTube Suara Berkelas, Evan menceritakan awal keberangkatannya ke Jerman pada usia 18 tahun.
Modal nekat dan keinginan kuat untuk mandiri membawanya terbang ke Eropa tepat setelah lulus SMA. Namun, perbedaan kultur yang bak bumi dan langit sempat membuatnya limbung.
"Begitu nyampai sana, aku baru nyadar kalau ternyata perbedaan itu banyak banget. Aku berusaha adaptasi, tapi tanpa disadari aku juga berubah, bahkan sampai kehilangan diriku juga di situ," kenang Evan dengan nada reflektif.
Sempat Terpuruk dan Alami Fase Depresi
Kebebasan yang didapat di Jerman justru menjadi bumerang. Jauh dari pengawasan orang tua dan lingkungan sekolah Muhammadiyah yang disiplin, Evan sempat merasa "liar" dan mencoba segala hal demi terlihat keren di mata teman-teman internasionalnya.
Namun, bukannya bahagia, rasa hampa justru menyergap hingga ia didiagnosis mengalami depresi oleh psikolog di Jerman.
Titik balik hidupnya terjadi saat ia mulai belajar mensyukuri hal-hal kecil di sekitarnya. Alih-alih meratapi kegagalan kuliah yang sempat tertunda, ia mulai mencatat setiap berkat yang dimiliki, mulai dari kesehatan hingga pekerjaan paruh waktu yang ia jalani di restoran dan pabrik demi menyambung hidup.
"Ternyata banyak banget nikmat yang diberi Tuhan, tapi yang aku fokusin selama ini adalah hal-hal yang aku enggak punya. Mungkin yang salah bukan dunia, tapi gimana cara aku mikir," tegasnya.
Berdamai dengan ADHD dan Tembus Tesla
Perjalanan Evan semakin menarik saat ia didiagnosis mengidap ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) tipe kombinasi pada usia 25 tahun.
Alih-alih menjadikannya hambatan, Evan justru melihat kondisi medis tersebut sebagai mesin kreativitasnya. Energi berlebih dan rasa penasaran yang tinggi ia salurkan untuk melahap berbagai literatur dan informasi setiap harinya.
Ketekunan itu membuahkan hasil. Setelah sempat berkarir di Samsung Next, Evan kini menjadi bagian dari tim HR di Tesla, Berlin.
Sebuah pencapaian prestisius bagi pemuda yang mengaku dulunya hanya murid dengan peringkat 25 dari 30 siswa saat SMA.
"Banyak orang kira ke luar negeri itu enak dan mudah, tapi realitanya buat lulus kuliah saja banyak banget yang gagal. Kuncinya bukan cuma pintar, tapi modal beradaptasi," ujar Evan memberikan tips bagi anak muda yang ingin mengikuti jejaknya.
Pesan untuk Anak Muda: Jangan Telan Semua Omongan Orang
Kini, Evan aktif membangun personal branding melalui media sosial dan baru saja merilis e-book yang segera diangkat menjadi buku fisik oleh penerbit nasional.
Kepada para pejuang mimpi, ia berpesan agar tidak mudah goyah oleh komentar negatif orang sekitar yang seringkali menghambat langkah untuk keluar dari zona nyaman.
"Kalau kamu pengin hidupmu di situ-situ saja, dengerin semua orang sekitar. Tapi kalau kamu pengin maju, kadang kamu harus tutup kuping dan ambil jalanmu sendiri," pungkasnya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni