Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Orang yang Tumbuh Miskin tetapi Menjadi Kaya Seringkali Tidak Bisa Menghilangkan 8 Perilaku Ini Menurut Psikologi

Cicik Nur Latifah • Senin, 6 April 2026 | 17:49 WIB
Ilustrasi seseorang yang tumbuh miskin tetapi menjadi kaya. (Freepik.com)
Ilustrasi seseorang yang tumbuh miskin tetapi menjadi kaya. (Freepik.com)

RADARTUBAN – Perjalanan dari kemiskinan menuju kekayaan bukan sekadar perubahan kondisi finansial. Lebih dari itu, proses tersebut merupakan transformasi hidup yang mendalam, mencakup cara berpikir, kebiasaan, hingga respons emosional terhadap uang dan rasa aman.

Menariknya, banyak individu yang berhasil bangkit dari keterbatasan ekonomi tetap membawa “jejak psikologis” dari masa lalu mereka, bahkan ketika kondisi finansial telah mapan.

Dalam dunia psikologi, fenomena ini dikenal sebagai scarcity mindset imprint, yaitu pola pikir kelangkaan yang tertanam kuat sejak lama.

Baca Juga: Intip Daftar Belanja Khas Kelas Menengah yang Dianggap Tidak Efisien oleh Orang Kaya

Dilansir dari Expert Editor pada Kamis (2/4), terdapat delapan perilaku yang kerap sulit dihilangkan oleh orang-orang yang tumbuh dalam kemiskinan, meskipun kini telah hidup berkecukupan.

Pertama, sulit merasa “cukup”. Individu yang terbiasa hidup dalam kekurangan cenderung memiliki ketakutan mendalam akan kehilangan.

Akibatnya, meskipun telah memiliki banyak, mereka tetap merasa belum cukup. Kondisi ini berkaitan dengan chronic insecurity atau rasa tidak aman yang terus-menerus.

Kedua, cenderung menimbun uang atau barang. Alih-alih menikmati hasil kerja keras, sebagian orang justru menjadi sangat hemat terhadap diri sendiri.

Mereka menunda pembelian, menyimpan uang tanpa tujuan jelas, hingga takut mengambil risiko dalam investasi. Hal ini dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu ketika kehilangan memiliki konsekuensi besar.

Ketiga, munculnya rasa bersalah saat menghabiskan uang. Bagi sebagian orang, menggunakan uang untuk kesenangan pribadi justru memicu konflik batin. Mereka merasa bersalah karena terbiasa hidup dalam keterbatasan, sehingga sulit menyesuaikan diri dengan kondisi baru.

Keempat, terlalu menghargai uang dibanding waktu. Karena terbiasa menganggap uang sebagai hal yang sangat berharga, mereka cenderung bekerja berlebihan, sulit beristirahat, bahkan mengorbankan hubungan demi penghasilan. Padahal, dalam kondisi mapan, waktu menjadi aset yang tak kalah penting.

Kelima, takut kehilangan status baru. Perubahan dari kondisi sulit ke kehidupan yang lebih baik kerap menimbulkan tekanan tersendiri.

Ketakutan untuk kembali ke titik awal atau fear of regression membuat seseorang terus bekerja keras tanpa henti dan sulit menikmati pencapaian.

Keenam, sulit percaya pada orang lain dalam hal keuangan. Pengalaman hidup yang keras membentuk sikap kehati-hatian berlebih.

Mereka cenderung enggan mendelegasikan urusan finansial dan ingin mengontrol semuanya sendiri sebagai bentuk perlindungan.

Baca Juga: Gak Nyangka! 8 Weton Ini Akan Naik Derajat dan Kaya Raya di Bulan April 2026

Ketujuh, tetap hidup “seperti dulu”. Meski telah mampu secara finansial, banyak yang tetap mempertahankan gaya hidup sederhana. Mereka lebih memilih barang murah, menghindari kemewahan, dan merasa tidak nyaman dengan gaya hidup yang dianggap terlalu berlebihan.

Kedelapan, sangat sensitif terhadap pemborosan. Orang yang pernah hidup dalam kekurangan biasanya sangat peka terhadap hal-hal yang dianggap mubazir, seperti makanan terbuang atau pengeluaran yang tidak perlu.

Reaksi ini muncul dari pengalaman masa lalu yang mengajarkan bahwa setiap sumber daya sangat berharga.

Sebagai penutup, menjadi kaya tidak serta-merta menghapus pengalaman masa lalu.

Pola pikir dan kebiasaan yang terbentuk saat menghadapi keterbatasan justru sering bertahan karena pernah menjadi cara untuk bertahan hidup.

Namun demikian, kesadaran menjadi langkah awal untuk berubah. Dengan memahami asal-usul perilaku tersebut, seseorang dapat mulai membangun hubungan yang lebih sehat dengan uang, menikmati hasil kerja keras, serta menciptakan keseimbangan antara rasa aman dan kebebasan.

Pada akhirnya, kekayaan sejati tidak hanya diukur dari jumlah materi, tetapi juga dari ketenangan pikiran. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#kaya #psikolog #miskin #finansial