Ilustrasi hubungan yang didasari rasa percaya
RADARTUBAN – Sulit percaya dengan orang baru merupakan fenomena psikologis yang cukup sering terjadi, baik dalam hubungan sosial maupun romantis.
Padahal, kepercayaan adalah fondasi utama dalam membangun hubungan yang sehat dan berkelanjutan.
Sikap waspada memang penting. Namun, jika berlebihan, hal ini justru dapat menjadi penghalang dalam membangun koneksi baru.
Rasa curiga yang terus-menerus dapat membuat hubungan menjadi kaku, rapuh, bahkan gagal berkembang.
Banyak orang mengira bahwa penyebab utama sulit percaya hanyalah trauma masa lalu. Namun, dalam psikologi, faktor penyebabnya jauh lebih kompleks.
Mulai dari pola keterikatan sejak kecil, pengalaman sosial, hingga bias kognitif yang memengaruhi cara seseorang memandang orang lain.
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa kepercayaan menyumbang 62,5 persen terhadap kualitas hubungan yang dirasakan. Bahkan, setiap peningkatan satu unit kepercayaan dalam hubungan romantis dapat meningkatkan kualitas hubungan sebesar 0,602 poin.
Artinya, tanpa kepercayaan, sulit mencapai kepuasan dan keintiman dalam sebuah hubungan.
Lalu, apa saja alasan psikologis yang membuat seseorang sulit percaya pada orang baru? Berikut penjelasannya:
1. Pola Keterikatan Sejak Kecil (Attachment Theory)
Pola keterikatan yang terbentuk sejak kecil sangat memengaruhi cara seseorang membangun hubungan di masa dewasa. Pengalaman dengan pengasuh utama—apakah penuh kasih atau justru penuh penolakan—akan membentuk cara pandang terhadap kepercayaan.
Individu dengan anxious attachment cenderung merasa tidak aman, takut ditinggalkan, dan membutuhkan kepastian terus-menerus. Hal ini membuat mereka sulit percaya karena selalu diliputi kekhawatiran.
Sementara itu, mereka dengan avoidant attachment cenderung menjaga jarak dan menghindari kedekatan emosional. Ada pula disorganized attachment yang ditandai dengan konflik antara keinginan dekat dan rasa takut terhadap keintiman.
2. Trauma dan Pengkhianatan di Masa Lalu
Pengalaman disakiti, dikhianati, atau mengalami kekerasan emosional dapat meninggalkan luka yang mendalam. Otak merespons dengan menjadi lebih waspada atau hipervigilant untuk menghindari bahaya serupa.
Namun, mekanisme perlindungan ini justru membuat seseorang kesulitan merasa aman, bahkan dalam hubungan yang sehat. Akibatnya, muncul rasa curiga berlebihan dan ketakutan akan terulangnya pengalaman buruk.
3. Pengaruh Lingkungan (Social Learning Theory)
Seseorang juga bisa belajar untuk tidak percaya dari lingkungan sekitarnya. Jika sejak kecil terbiasa melihat kebohongan, pengkhianatan, atau janji yang tidak ditepati, maka otak akan menyimpulkan bahwa kepercayaan berujung pada kekecewaan.
Sebaliknya, individu yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh kejujuran dan dukungan cenderung lebih mudah mempercayai orang lain.
4. Bias Kognitif (Negativity Bias & Confirmation Bias)
Cara otak memproses informasi juga berperan besar. Negativity bias membuat seseorang lebih fokus pada pengalaman buruk dibandingkan yang baik. Satu pengalaman negatif bisa menutupi banyak pengalaman positif.
Sementara itu, confirmation bias membuat seseorang cenderung mencari bukti yang memperkuat kecurigaannya, sambil mengabaikan tanda-tanda kejujuran dari orang lain.
Kombinasi keduanya menciptakan lingkaran yang membuat rasa tidak percaya semakin kuat.
Strategi Mengatasi Trust Issue
Meski tidak mudah, trust issue bisa diatasi dengan langkah yang tepat. Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain menerima risiko dalam membangun kepercayaan, memahami proses kepercayaan, berani membuka diri secara bertahap, mengenali akar masalah, serta membangun komunikasi yang jujur.
Selain itu, penting untuk menghargai orang-orang yang telah menunjukkan konsistensi dan dapat dipercaya. Dari sana, seseorang dapat belajar kembali membangun kepercayaan secara perlahan.
Dengan kesabaran dan dukungan yang tepat, rasa sulit percaya bukan lagi menjadi penghalang, melainkan tantangan yang bisa diatasi untuk membangun hubungan yang lebih sehat.
Editor : Yudha Satria Aditama