Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Kenapa Orang Bisa Emosi saat Rumah Berantakan? Begini Penjelasan Konsultan Kebersihan, Marie Kondo

Bihan Mokodompit • Sabtu, 18 April 2026 | 19:46 WIB
lustrasi orang emosi (freepik/cookie_studio)
lustrasi orang emosi (freepik/cookie_studio)

RADARTUBAN - Kenapa orang bisa emosi saat rumah berantakan menjadi pertanyaan yang sering muncul dalam kehidupan modern yang serba cepat.

Fenomena ini dijelaskan oleh Marie Kondo sebagai bagian dari hubungan emosional manusia dengan lingkungan sekitarnya.

Dalam berbagai wawancara dan tulisannya, Marie Kondo menegaskan bahwa rumah berantakan bukan sekadar masalah visual, tetapi juga berdampak langsung pada kondisi psikologis seseorang.

Ia menyebut bahwa lingkungan yang tidak tertata dapat membuat pikiran terasa penuh dan sulit fokus.

Baca Juga: Ngorok Bikin Tidur Berantakan? Coba Resep Herbal dari dr. Zaidul Akbar, Dijamin Lebih Plong dan Nyenyak!

Rumah Berantakan dan Beban Pikiran

Menurut Marie Kondo, rumah berantakan menciptakan beban mental karena otak terus memproses banyak informasi secara bersamaan.

Hal ini membuat seseorang lebih mudah merasa lelah dan sensitif secara emosional.

Dalam bukunya, The Life-Changing Magic of Tidying Up, ia menuliskan:

“Pertanyaannya adalah apa yang ingin Anda miliki, bukan apa yang ingin Anda buang.”

Kutipan tersebut menekankan bahwa memilih barang yang disimpan berpengaruh pada ketenangan pikiran.

Konsep ini menjadi dasar dari metode KonMari yang kini dikenal luas sebagai solusi mengatasi stres karena berantakan.

Konsep “Spark Joy” dan Pengaruhnya pada Emosi

Marie Kondo memperkenalkan konsep “spark joy” sebagai cara untuk menentukan apakah sebuah barang layak disimpan.

Ia percaya bahwa hanya barang yang memberikan kebahagiaan yang seharusnya tetap berada di dalam rumah.

Ketika seseorang dikelilingi barang yang tidak memiliki nilai emosional, maka risiko munculnya emosi negatif akan semakin besar.

Sebaliknya, lingkungan yang dipenuhi barang bermakna akan menciptakan rasa nyaman dan tenang.

Pendekatan ini juga membantu mengurangi stres karena berantakan yang sering tidak disadari.

Kerapian sebagai Kunci Kesehatan Mental

Marie Kondo melihat kerapian sebagai bagian penting dari keseimbangan hidup.

Ia menilai bahwa rumah adalah tempat untuk mengisi ulang energi setelah menjalani aktivitas sehari-hari.

Jika kondisi rumah tidak mendukung, maka seseorang akan lebih rentan mengalami emosi negatif.

Dalam sebuah wawancara yang dikutip oleh media, ia menyampaikan:

“Tujuan dari merapikan adalah menciptakan ruang yang mendukung kebahagiaan Anda.”

Pernyataan tersebut memperkuat bahwa kerapian memiliki dampak langsung terhadap kesehatan mental.

Mengapa Orang Mudah Emosi saat Rumah Berantakan

Menjawab pertanyaan kenapa orang bisa emosi saat rumah berantakan, Marie Kondo menilai bahwa hal itu terjadi karena adanya ketidaksesuaian antara lingkungan dan kebutuhan batin.

Ketika rumah tidak tertata, otak menganggapnya sebagai pekerjaan yang belum selesai.

Kondisi ini memicu tekanan psikologis yang berujung pada stres karena berantakan.

Jika dibiarkan, tekanan tersebut bisa berkembang menjadi emosi negatif yang lebih besar.

Oleh karena itu, menjaga kerapian bukan hanya soal estetika, tetapi juga kebutuhan emosional.

Melalui pendekatannya, Marie Kondo menegaskan bahwa rumah berantakan memiliki pengaruh nyata terhadap kondisi mental seseorang.

Kerapian membantu menciptakan ruang yang lebih sehat secara emosional.

Dengan menerapkan prinsip “spark joy”, seseorang dapat mengurangi stres karena berantakan sekaligus menghindari munculnya emosi negatif.

Pemahaman ini menjadi jawaban sederhana namun kuat atas pertanyaan kenapa orang bisa emosi saat rumah berantakan. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#rumah berantakan #marie kondo #stres #emosi