Dalam sesi bincang santai di Podcast Ruang Tunggu, dr. Andreas dan Dea membedah tuntas bahwa kehadiran yang utuh jauh lebih berharga daripada tumpukan solusi yang dipaksakan kepada lawan bicara.
"Ada beda antara hearing dan listening, di mana mendengar cuma butuh telinga, tapi menyimak melibatkan kepala dan hati secara bersamaan," ujar Dea dalam kutipan dialog tersebut.
Baca Juga: Bukan Sekadar Mendengar, Ini Rahasia Jadi Pendengar yang Disukai
Bedanya Mendengar dan Menyimak
Menyimak memerlukan proses mental untuk mengolah emosi yang tersirat, sehingga bukan sekadar fungsi biologis telinga yang menangkap suara secara sempurna.
Seseorang yang menjadi pendengar aktif akan jauh lebih menarik sebagai lawan bicara karena ia mampu menangkap poin-poin informasi penting yang sering kali terlewatkan oleh orang lain.
Trik Merespons Tanpa Harus Sok Tahu
Kesalahan umum saat dicurhati adalah merasa wajib memberikan solusi, padahal banyak orang hanya membutuhkan validasi atau tempat untuk melepaskan beban emosi.
"Teknik refleksi isi dan refleksi perasaan, seperti menebak perasaan lawan bicara, sangat efektif untuk membiarkan mereka mengeksplorasi emosinya sendiri hingga mereda," jelas dr. Andreas.
Rahasia Gerak Tubuh yang Menenangkan
Respons non-verbal seperti teknik fronting dan mirroring memegang peranan krusial dalam membangun kenyamanan serta kedekatan dengan lawan bicara.
Detail kecil seperti tempo anggukan tiga kali secara lambat menandakan kita sedang mencerna informasi, sementara anggukan yang terlalu cepat justru memberi kesan ingin lawan bicara segera diam.
Cara Menjaga Mental Agar Tidak Terkuras
Mendengarkan curhatan berat bisa sangat menguras energi, sehingga penting bagi kita untuk menetapkan batasan agar tidak terjebak dalam masalah orang lain.
"Posisikan bahwa masalah tersebut bukan milik kita, sehingga kita bisa tetap berempati dengan jarak yang sehat tanpa harus merasa terbebani oleh solusi," pungkas dr. Andreas sebagai tips praktis bagi para pendengar. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni