Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Awas! Jarang Baca Buku Ternyata Bisa Melemahkan Kemampuan Berpikir Kritis, Ini Penjelasan Neurosains

M Robit Bilhaq • Jumat, 1 Mei 2026 | 19:57 WIB
Ilustrasi malas baca buku. (RADARTUBAN/AI)
Ilustrasi malas baca buku. (RADARTUBAN/AI)

RADARTUBAN - Di tengah banyaknya konten digital yang cepat dan instan, saat ini banyak orang yang menganggap membaca buku sebagai hal yang membosankan dan tidak efisien.
 
Dibalik itu, terdapat fakta mengejutkan dari sisi neurosains.

Membaca buku secara fisik ternyata dapat mengubah struktur otak manusia dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh konten digital apapun.

Berbeda dengan kemampuan berbicara yang alami, membaca adalah keterampilan yang harus dipelajari. 

Menurut neurosaintis Dr. Maryanne Wolf, untuk menyambungkan tiga aspek sekaligus, yaitu mengenali bentuk huruf, mendengarkan bunyi di dalam kepala, dan memahami makna, otak manusia harus bekerja dengan luar biasa.

Proses aktif tersebut yang membuat membaca jauh lebih berguna dibandingkan menonton video, di mana otak hanya bersifat menerima informasi yang sudah jadi.

Baca Juga: Akses Tanpa Kuasa:  Membaca Ulang Kartini di Era Digital dari Kelas di Tuban 

Meskipun banyak orang merasa sudah cukup belajar dari media sosial atau podcast, dalam proses pengolahan informasinya terdapat perbedaan yang mendasar.

Otak melakukan simulasi pengalaman secara nyata saat seseorang membaca.

Area otak yang berkaitan dengan penciuman atau emosi akan terlibat aktif seolah-olah kita sedang menjalani kejadian tersebut. 

Hal inilah yang membangun empati dan kemampuan berpikir kritis, bukan sekadar menumpuk informasi.

Saat seseorang berhenti membaca buku dalam waktu lama, hal tersebut menyebabkan melemahnya jaringan otak yang berfungsi untuk berpikir orisinal dan menghasilkan ide-ide baru. 

Di era kecerdasan buatan (AI) yang semakin canggih, kemampuan berpikir mendalam menjadi aset yang sangat langka dan berharga. 

Dalam merangkum informasi, AI memang sangat hebat, tetapi AI tidak dapat mensimulasikan imajinasi unik manusia. 

Tanpa pondasi berpikir yang kuat dari kebiasaan membaca, teknologi justru bisa membuat kapasitas intelektual manusia perlahan melemah.

Untuk membangun kembali aset berharga tersebut, tidak memerlukan target yang terlalu ambisius. 

Baca Juga: Dari Buku ke Dunia, Fina Dwi Andriani Temukan Ketentraman Lewat Membaca

Cukup memulai dengan membaca 10 halaman setiap hari tanpa gangguan notifikasi ponsel. 

Selain itu, menulis catatan tangan saat membaca dan meletakkan buku di area yang mudah terlihat akan membantu mendesain lingkungan yang mendukung kedisiplinan tanpa paksaan.

Membaca buku bukanlah soal menambah pengetahuan saja, tetapi adalah tentang mengasah perspektif dan imajinasi unik yang menjadi pembeda utama manusia di masa depan. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#strucktur otak #AI #Membaca Buku #konten digital #Neurosains