Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Riset Psikologi: Pentingnya Menjadwalkan Liburan Rutin Dua Bulan Sekali demi Kewarasan Mental Pekerja

Amaliya Syafithri • Minggu, 24 Mei 2026 | 07:36 WIB
Ilustrasi liburan di Pantai (M. MAHFUDZ MUNTAHA/RADAR TUBAN)
Ilustrasi liburan di Pantai (M. MAHFUDZ MUNTAHA/RADAR TUBAN)

RADARTUBAN - Tekanan pekerjaan yang tinggi, tenggat waktu yang ketat, serta rutinitas harian yang monoton sering kali menjadi pemicu utama timbulnya stres berat dan kejenuhan kronis bagi para pekerja modern. 

Menanggapi fenomena global ini, sebuah studi klinis terbaru yang dirilis oleh American Psychological Association (APA) mengungkapkan sebuah fakta yang sangat menarik mengenai manajemen kesehatan mental. 

Riset tersebut menyatakan bahwa idealnya seorang pekerja membutuhkan waktu liburan atau rekreasi singkat setiap dua bulan sekali untuk menjaga stabilitas emosional dan produktivitas kerja.

Baca Juga: Tiga Bulan Kandas, Kapal MT Abigail W Masih Terjebak di Pantai Panduri Tuban

Mengambil jeda dari rutinitas pekerjaan secara berkala terbukti secara ilmiah mampu menurunkan kadar hormon kortisol atau hormon pemicu stres di dalam tubuh secara signifikan. 

Liburan dua bulan sekali tidak harus selalu berupa perjalanan mewah ke luar negeri atau tempat wisata yang mahal. 

Perjalanan singkat ke alam terbuka, menikmati akhir pekan di luar kota, atau sekadar melakukan aktivitas yang disukai di luar lingkungan rumah dan kantor sudah cukup efektif untuk memulihkan fungsi kognitif otak yang kelelahan.

Ketika seseorang memaksakan diri untuk bekerja terus-menerus tanpa adanya jeda yang ideal, mereka akan sangat rentan mengalami fenomena yang disebut burnout syndrome. 

Gejala ini ditandai dengan penurunan motivasi yang drastis, hilangnya kreativitas, mudah marah, hingga gangguan kesehatan fisik seperti migrain dan insomnia. 

Dengan menjadwalkan liburan pendek setiap delapan minggu, otak diberikan kesempatan emas untuk melakukan proses penyegaran atau reset ulang, sehingga saat kembali bekerja, fokus dan konsentrasi akan meningkat tajam.

Selain bermanfaat bagi kesehatan mental individu, pola liburan yang teratur ini juga memberikan keuntungan besar bagi pihak perusahaan. 

Karyawan yang memiliki kesehatan mental yang prima cenderung memiliki tingkat absensi sakit yang jauh lebih rendah dan mampu menghasilkan inovasi kerja yang lebih segar. 

Oleh karena itu, keseimbangan antara kehidupan kerja dan waktu pribadi (work-life balance) melalui liburan berkala harus mulai dipandang sebagai sebuah kebutuhan biologis yang mutlak, bukan lagi sekadar gaya hidup atau kemewahan semata. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#pantai #hormon #liburan