RADARTUBAN - Perubahan tempat berkumpul masyarakat terlihat jelas dalam beberapa dekade terakhir. Jika dulu taman kota menjadi pusat interaksi, kini mal mengambil alih peran itu. Mal dianggap lebih nyaman, aman, dan penuh hiburan.
Minimnya ruang terbuka menjadi salah satu penyebab. Banyak kota kekurangan taman yang terawat, sehingga masyarakat lebih memilih ruang privat yang dikomersialisasi.
Mengapa orang memilih mal? Selain fasilitas lengkap, mal menawarkan kenyamanan: AC, keamanan, dan akses mudah. Bagi keluarga, mal menjadi tempat rekreasi praktis; bagi anak muda, ia menjadi ruang nongkrong yang populer.
Baca Juga: 5 Tips Ampuh Atasi Insomnia agar Tidur Nyenyak dan Berkualitas Setiap Malam
Namun, ada dampak sosial yang perlu dicermati. Interaksi di mal sering kali terbatas pada konsumsi. Ruang publik yang seharusnya gratis berubah menjadi ruang yang mensyaratkan belanja. Akibatnya, kesenjangan sosial semakin terasa.
Di sisi lain, pentingnya taman kota tidak bisa digantikan. Taman menyediakan udara segar, ruang bermain anak, dan tempat berkumpul tanpa biaya. Ia juga menjadi simbol kota yang peduli pada warganya.
Kota yang ramah masyarakat adalah kota yang menyediakan ruang publik inklusif. Tidak semua orang mampu menghabiskan waktu di mal, tetapi semua orang berhak menikmati ruang terbuka yang sehat.
Akhirnya, kita perlu memikirkan ruang publik masa depan. Apakah kota akan terus bergantung pada mal, atau mulai membangun kembali taman dan ruang terbuka yang bisa diakses semua kalangan?
Ketika mal menjadi pengganti taman kota, masyarakat kehilangan ruang publik yang sejati.
Mal memang menawarkan kenyamanan, tetapi dia tidak bisa menggantikan fungsi sosial dan ekologis taman. Kota yang sehat adalah kota yang memberi ruang bagi warganya untuk berkumpul tanpa syarat konsumsi.
Ruang publik masa depan seharusnya kembali menyeimbangkan antara kebutuhan rekreasi modern dan hak dasar masyarakat atas ruang terbuka. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama