RADARTUBAN - Seorang psikolog klinis senior sekaligus Direktur personal Growth dan anggota Tim ahli kelompok kerja kesehatan jiwa kementerian kesehatan RI, Ratih Ibrahim.
Menilai pandangan bahwa sebagian orang melihat judi online sebagai jalan cepat untuk mendapatkan uang, akan tetapi anggapan tersebut belum tentu tepat.
Ratih menjelaskan bahwa pada tahap tertentu, pemain judi online tidak lagi mengejar keuntungan semata, melainkan sudah masuk dalam pola adiksi yang berdampak pada otak, pikiran, dan pengambilan keputusan.
"Kecanduan judi online umumnya tidak terjadi secara tiba-tiba. Pada awalnya, seseorang mungkin mencoba berjudi Karena rasa penasaran, mencari hiburan, atau berharap mendapatkan keuntungan dengan cepat," Kata Psikolog Ratih Ibrahim.
Baca Juga: Marak Akun Judi Online Membanjiri Kolom Komentar Instagram, Begini Respons Komdigi
Menurut Ratih, keinginan memperoleh uang secara instan memang kerap menjadi awal seseorang mencoba judi online.
Akan tetapi, yang membuat mereka sulit berhenti justru pengalaman emosional ketika menang, karena hal itu mengaktifkan sistem penghargaan di otak dan menimbulkan dorongan untuk bermain lagi.
Kekalahan tidak selalu membuat pemain jera. Bagi sebagian orang, kondisi itu justru memunculkan dorongan untuk terus berjudi demi mengembalikan uang yang hilang atau meredakan tekanan emosi.
"Ketika mulai mengalami kerugian, seseorang seringkali terdorong untuk terus berjudi dengan harapan dapat mengembalikan uang yang hilang atau berbagai cara untuk mengurangi stress yang dirasakan," Ungkapnya
Psikolog Menilai, kecanduan judi online bukan hanya persoalan lemahnya kemauan, melainkan gangguan psikologis yang bekerja seperti adiksi lain termasuk alkohol dan narkotika.
Kondisi ini membuat sistem penghargaan di otak terganggu sehingga penderitanya kesulitan menahan dorongan untuk terus berjudi.
Kerugian dari judi online dampaknya tidak hanya menyentuh aspek finansial, tetapi juga berdampak pada daya pikir, relasi sosial, serta menurunkan kesehatan mental.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa orang yang kecanduan judi online tetap memiliki kesempatan untuk pulih.
"Seseorang yang mengalami kecanduan judi online dapat mengatasi kecanduannya. Namun, proses ini umumnya membutuhkan waktu dan komitmen, tuh kan perubahan yang terjadi secara instan," Imbuhnya.
Ratih menilai, proses pemulihan sangat dipengaruhi oleh dukungan orang-orang terdekat, terutama keluarga. Saat seorang merasa dipahami dan didampingi, iya cenderung lebih berani mengakui masalah yang dihadapinya dan lebih terbuka menerima bantuan.
Namun dukungan keluarga bukan berarti meniadakan akibat dari perilaku judi, karena itu keluarga tetap perlu menetapkan batas yang sehat misalnya tidak terus-menerus melunasi hutang tanpa adanya komitmen berubah atau memberikan uang yang justru bisa dipakai kembali untuk berjudi. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni