Etika Anak Muda Mulai Luntur di Era Digital? Kebiasaan Main HP dan Chat Jadi Sorotan Pakar

Jessyca Diva Edhelwise • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 18:28 WIB
Penerapan etika dan sopan santun dalam berkomunikasi secara digital menjadi kunci utama menjaga kualitas interaksi sosial. (pinterest.com)
Penerapan etika dan sopan santun dalam berkomunikasi secara digital menjadi kunci utama menjaga kualitas interaksi sosial. (pinterest.com)

​RADARTUBAN – Perubahan pola hidup masyarakat pada era serbadigital kini perlahan mengikis kualitas interaksi sosial secara langsung.

Fenomena asyik bermain smartphone saat berkumpul atau makan bersama menjadi penanda kuat makin memudarnya etika serta sopan santun di tengah masyarakat, khususnya generasi muda.

​Masalah tersebut dikupas dalam wawancara di kanal YouTube Suara Berkelas bersama pakar sekaligus pelatih etiket, Clarisa.

Dia menyoroti bagaimana pesatnya perkembangan teknologi kerap kali menciptakan benteng atau jarak emosional antarindividu. Alhasil, tidak sedikit orang yang menjalani rutinitas harian tanpa memedulikan tata krama dasar dalam menjalin hubungan dengan sesama.

​"Banyak sekali missing link saat ini yang membuat hubungan antarmanusia semakin renggang. Penyebab utamanya karena pemahaman soal etiket dan manners yang masih rendah, serta minimnya kesadaran dari dalam diri sendiri," ungkap Clarisa saat berbincang dengan Bilal selaku pemandu acara.

Baca Juga: Microsoft Kembangkan Integrasi Smartphone yang Lebih Dalam di Windows 11

​Clarisa menegaskan, etika bukan sekadar aturan formal atau norma kaku yang mengekang. Lebih dari itu, etika merupakan cerminan kecerdasan emosional (emotional intelligence) seseorang untuk menciptakan rasa nyaman bagi orang-orang di sekitarnya. 

Tindakan yang dianggap sepele seperti sibuk menatap layar HP di meja makan keluarga hingga membalas pesan obrolan (chat) secara asal-asalan, sangat rentan memicu kesalahpahaman dan merusak ikatan pertemanan.

Dia juga menambahkan bahwa budaya mengutarakan three magic words yaitu kata tolong, maaf, dan terima kasih, kini kian asing di telinga anak-anak maupun remaja.

Padahal, kebiasaan sederhana ini menjadi pilar utama dalam membangun karakter positif sejak kecil.

​"Penerapan ilmu etiket dan manners itu sejatinya berakar pada kecerdasan emosional. Karena itu, orang tua tidak bisa melulu menuntut anak untuk bersikap sopan tanpa bersedia memberi teladan nyata di lingkungan rumah," tutur perempuan yang telah bergelar trainerpreneur selama lima tahun tersebut.

​Tak hanya etika bertatap muka, tata cara merespons pesan digital juga tak kalah penting.

Menurut Clarisa, tenggat standar untuk membalas obrolan atau mengonfirmasi undangan adalah maksimal 1x24 jam demi menjaga rasa saling menghargai.

​"Se-sibuk apa pun kondisi kita, setidaknya beri balasan singkat seperti 'Oke, nanti saya balas ya'. Jangan pernah membiarkan orang lain menunggu tanpa kepastian," pungkasnya.

​Maraknya krisis sopan santun di tengah gempuran teknologi memang menjadi tantangan tersendiri. Namun, membiasakan hal-hal kecil seperti memberi senyuman hangat, menjaga gestur tubuh tetap ramah, hingga menyapa orang lain, terbukti ampuh mempererat relasi sosial sekaligus membuka peluang kesuksesan di dunia kerja. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Bermain Smartphone pola hidup etika