Mengintip Pola Parenting Bunda Mei di Balik Kecerdasan Kafka, Peserta Clash of Champions Season 3

Jessyca Diva Edhelwise • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 09:39 WIB
Kafka Bintang Timora dan Bunda Mei dalam bincang-bincang mengenai pola parenting. (Tangkapan Layar YouTube Sabrina Anggraini)
Kafka Bintang Timora dan Bunda Mei dalam bincang-bincang mengenai pola parenting. (Tangkapan Layar YouTube Sabrina Anggraini)

RADARTUBAN– Nama Kafka Bintang Timora, atau yang kerap dipanggil Kafka, seketika menjadi perbincangan hangat publik setelah penampilannya yang memukau di ajang Clash of Champions (CoC) Season 3.

Mahasiswa program studi Kedokteran Militer di Universitas Pertahanan (Unhan) RI ini sukses mencuri perhatian banyak penonton berkat kemampuan daya ingatnya yang luar biasa saat menuntaskan tantangan Memory Lips Recall.

Lewat obrolan penuh inspirasi di kanal YouTube Sabrina Anggraini dalam program #BossMama Podcast, Kafka hadir secara langsung bersama sang ibunda, Bunda Mei, untuk membagikan kisah di balik pola pengasuhan (parenting) serta rekam jejak akademisnya yang panjang.

Bunda Mei menceritakan bahwa bakat luar biasa yang dimiliki Kafka sebenarnya sudah terlihat jelas sejak dini.

Baca Juga: Beda Banget dari Indonesia! Na Daehoon Ungkap Aturan Ketat hingga Rahasia Kemandirian Parenting Korea

Pada usia 7 tahun, Kafka menjalani tes IQ formal dan hasilnya menunjukkan ia sebagai anak gifted dengan skor verbal yang mencapai angka sempurna, yaitu 20 dari skala 20.

Meskipun menyadari bakat luar biasa yang dimiliki oleh sang anak, Bunda Mei memilih untuk tidak memaksakan berbagai kegiatan les tambahan atau membebaninya dengan target akademis yang terlalu tinggi.

Menurutnya, fokus utama pengasuhan di rumah adalah pembiasaan ibadah, komunikasi yang transparan dan terbuka, serta memberikan ruang seluas-luasnya bagi anak untuk mengeksplorasi minatnya secara mandiri.

Sebelum menempuh pendidikan di Universitas Pertahanan, Kafka telah mengukir berbagai prestasi membanggakan sejak duduk di bangku sekolah, salah satunya sukses meraih medali perak pada ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Geografi tahun 2024.

Kafka mengakui bahwa keputusannya untuk mengambil jurusan kedokteran militer di Unhan merupakan langkah besar yang ia tentukan atas kemauan sendiri dan rasa tanggung jawab pribadi.

Ia ingin meringankan beban finansial orang tua tanpa harus mengabaikan cita-cita besarnya di bidang kedokteran.

Salah satu poin paling menarik dari pola parenting yang diterapkan Bunda Mei adalah pembentukan bonding emosional dan komunikasi yang erat.

Di rumah, tidak ada tradisi membedakan peran gender dalam urusan rumah tangga, seluruh anak laki-lakinya dibiasakan untuk berbagi tugas merapikan, memasak, dan menjaga kebersihan rumah secara bersama-sama.

​"Bagi saya, orang tua itu seperti rumah. Kalau saya capek atau ada masalah, saya selalu pulang dan diskusi mencari sudut pandang baru dari Ayah dan Bunda," ungkap Kafka.

Pola pengasuhan yang santai namun tetap konsisten, berlandaskan pembentukan karakter kuat dan nilai spiritual sejak dini, merupakan kunci sukses Bunda Mei dalam mendampingi tumbuh kembang anak tanpa memberikan rasa tertekan. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Sumber : YouTube Sabrina Anggraini
kafka parenting Clash of Champions cerdas