RADARTUBAN – Pernah melihat seseorang makan di restoran, menonton bioskop, atau bepergian (traveling) sendirian?
Sebagian orang mungkin menganggapnya kesepian atau bahkan tidak memiliki teman. Padahal, dari sudut pandang psikologi, nyaman melakukan aktivitas seorang diri bukanlah sesuatu yang aneh. Kondisi tersebut dapat menunjukkan seseorang mampu menikmati waktu bersama dirinya sendiri.
Dilansir dari kanal YouTube Upgrade Diri, sebuah penelitian pada 2017 menemukan bahwa banyak orang cenderung menghindari aktivitas sendirian di tempat publik bukan karena tidak mampu, melainkan karena takut dinilai negatif oleh orang lain.
Baca Juga: Tingkatkan Kepercayaan Diri saat Public Speaking dengan Menghilangkan 7 Kebiasaan Ini
Mereka khawatir dianggap kesepian, antisosial, atau tidak memiliki teman. Padahal, penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang lain di tempat umum sebenarnya tidak selalu memberikan penilaian negatif seperti yang dibayangkan.
Ketakutan tersebut berkaitan dengan fenomena psikologis yang dikenal sebagai spotlight effect. Kondisi ini membuat seseorang merasa seolah-olah dirinya selalu menjadi pusat perhatian, padahal orang lain umumnya sibuk dengan urusan masing-masing.
Psikologi juga membedakan antara loneliness dan solitude. Loneliness merupakan kondisi ketika seseorang merasa kesepian atau terisolasi. Sementara solitude adalah kesendirian yang dipilih secara sadar dan dapat menjadi pengalaman positif.
Dalam kondisi solitude, seseorang memiliki ruang untuk berpikir, menikmati pengalaman pribadi, hingga memulihkan energi mental. Waktu untuk diri sendiri juga dapat membantu proses emotional regulation atau kemampuan mengelola emosi.
Introvert Bukan Berarti Antisosial
Faktor kepribadian juga dapat memengaruhi kenyamanan seseorang ketika melakukan aktivitas sendirian.
Psikolog Carl Jung menjelaskan konsep introvert yang kerap disalahartikan sebagai pemalu atau antisosial. Padahal, konsep tersebut lebih berkaitan dengan bagaimana seseorang memperoleh dan mengelola energi mental.
Berbeda dengan ekstrovert yang cenderung mendapatkan energi dari interaksi sosial, seorang introvert dapat merasa terkuras jika terlalu lama berada dalam situasi sosial. Kondisi tersebut dapat memicu kelelahan sosial atau social burnout.
Bagi sebagian orang dengan karakter introvert, waktu sendirian dapat menjadi sarana untuk memulihkan energi atau recharge.
Selain faktor kepribadian, ada sejumlah alasan psikologis lain yang dapat membuat seseorang menikmati bepergian sendirian.
Baca Juga: Tips Solo Travelling untuk Pemula, Ini Cara agar Liburan Sendirian Tetap Aman dan Menyenangkan
1. Kebutuhan Otonomi (Autonomy Need)
Manusia memiliki kebutuhan untuk memiliki kendali atas kehidupannya. Orang yang nyaman melakukan aktivitas sendiri cenderung menikmati kebebasan dalam mengambil keputusan tanpa harus selalu berkompromi dengan orang lain.
Ketika bepergian sendirian, misalnya, seseorang bebas menentukan tujuan, waktu keberangkatan, tempat makan, hingga aktivitas yang ingin dilakukan.
2. Kepercayaan Diri (Self-Efficacy)
Kebiasaan melakukan berbagai hal sendiri dapat membantu membentuk self-efficacy, yakni keyakinan terhadap kemampuan diri dalam menghadapi situasi tertentu.
Orang yang terbiasa mengandalkan diri sendiri mungkin terlihat lebih santai ketika berada di tempat baru.
Bukan berarti mereka tidak pernah merasa canggung atau mengalami masalah, tetapi mereka lebih terbiasa mencari solusi secara mandiri.
3. Terbebas dari Perbandingan Sosial (Reduced Social Comparison)
Ketika sendirian, seseorang dapat memiliki ruang untuk mengurangi dorongan membandingkan dirinya dengan orang lain.
Kondisi tersebut memberikan jeda dari berbagai tekanan dan tuntutan sosial. Seseorang dapat menikmati pengalaman sesuai keinginan tanpa terlalu memikirkan bagaimana dirinya terlihat di mata orang lain.
Pada akhirnya, seseorang yang suka pergi sendirian bukan berarti antisosial atau menolak hubungan dengan orang lain.
Kemampuan menikmati waktu sendiri justru dapat menjadi bagian dari hubungan yang sehat dengan diri sendiri. Seseorang yang nyaman dengan dirinya tidak selalu membutuhkan kehadiran orang lain untuk merasa berharga.
Karena itu, jangan buru-buru menganggap orang yang makan, menonton, atau bepergian sendirian sebagai seseorang yang kesepian. Bisa jadi, ia hanya sedang menikmati kebebasan, ketenangan, dan waktunya bersama diri sendiri. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama