Kenapa Orang Indonesia Hobi Makan Pedas? Ilmuwan Ungkap Alasan di Balik Sensasi Menyakitkan Ini

Puput Dwi Indrawati • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 18:27 WIB
ilustrasi berbagai kuliner pedas Indonesia yang mudah kita jumpai sehari-hari. (Tangkapan layar YouTube Duzzles)
ilustrasi berbagai kuliner pedas Indonesia yang mudah kita jumpai sehari-hari. (Tangkapan layar YouTube Duzzles)

RADARTUBAN - Kalau makan gorengan tidak pakai cabai rawit, rasanya pasti ada yang kurang. Atau saat memesan ayam geprek, level pedasnya harus yang sanggup membuat keringat bercucuran.

Sebenarnya, kenapa sih orang Indonesia hobi banget makan pedas? Padahal jika dipikir-pikir, rasa pedas itu membuat lidah sakit dan perut terasa panas.

Usut punya usut, fenomena "gila pedas" ini bukan sekadar kebiasaan makan biasa. Ada penjelasan ilmiah dan sejarah panjang di baliknya.

Dilansir dari tayangan edukatif di kanal YouTube Duzzles bertajuk "Kenapa Orang Indonesia Gila Makanan Pedas?", ternyata cinta kita pada sambal adalah perpaduan unik antara sejarah, kondisi alam, dan cara kerja otak.

Banyak yang mengira cabai adalah tanaman asli Nusantara. Padahal, asal-usul cabai di Indonesia baru dimulai sekitar abad ke-16 ketika dibawa oleh para pelaut Portugis dan Spanyol.

Baca Juga: Di Balik Candu Mie Level Ini Alasan Otak Ketagihan Pedas Ekstrem dan Bahayanya Bagi Kesehatan

Sebelum ada cabai, nenek moyang kita mengandalkan jahe, lada, dan andaliman untuk memberi sensasi hangat pada masakan. Begitu cabai diperkenalkan, tanaman ini mengalami proses kulturisasi yang sangat cepat.

Nah, inilah yang menjadi daya tarik utamanya. Pengaruh iklim tropis memainkan peran besar mengapa cabai begitu mendarah daging dalam kuliner kita. 

Terlebih tanaman ini bisa tumbuh subur dengan sangat mudah, pasokannya menjadi begitu berlimpah ruah di kawasan ASEAN.

Ketersediaan cabai yang melimpah dan murah inilah yang membuat masyarakat akhirnya berkreasi dan memasukkannya ke dalam hampir setiap masakan sehari-hari, hingga lidah kita benar-benar terbiasa.

Lalu, bagaimana dengan rasa sakitnya? Secara biologis, pedas bukanlah sebuah rasa seperti manis atau asin, melainkan murni sensasi nyeri.

Cabai mengandung zat kimia bernama capsaicin. Saat menyentuh lidah, zat pedas ini membuat reseptor rasa sakit di mulut mengirim sinyal bahaya ke otak, seolah-olah mulut sedang terbakar.

Hebatnya, saat otak menerima sinyal rasa sakit tersebut, tubuh langsung merespons dengan memproduksi hormon endorfin dan dopamin sebagai pereda nyeri alami.

Gabungan kedua hormon ini tidak hanya menghilangkan rasa sakit di lidah, tetapi juga memberikan efek euforia, rasa bahagia, dan kelegaan. Inilah mengapa stres rasanya langsung pudar setelah menyantap makanan super pedas.

Lebih lanjut, seorang psikolog bernama Dr. Paul Rozin menjelaskan fenomena ini sebagai Benign Masochism atau masokisme ringan.

Manusia bisa menikmati sensasi menyakitkan karena sadar betul bahwa hal itu sebenarnya aman. Otak kita tahu bahwa meskipun mulut terasa terbakar, nyawa kita tidak sedang terancam.

Kepuasan setelah berhasil "bertahan hidup" dari rasa sakit semu inilah yang bikin kita selalu ketagihan menantang level pedas berikutnya.

Kegemaran orang Indonesia menyantap makanan pedas adalah sebuah paket lengkap yang dibentuk oleh alam dan biologi.

Mulai dari kulturisasi cabai yang tumbuh sangat subur dan melimpah berkat iklim tropis ASEAN, hingga sensasi masokisme ringan yang memicu pelepasan hormon kebahagiaan di otak. 

Semua faktor tersebut bersatu membuat lidah masyarakat Nusantara sulit lepas dari godaan sambal.

Makan pedas bukan lagi sekadar selera, melainkan sebuah pengalaman budaya dan biologis yang memuaskan! (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Sumber : YouTube Duzzles
makan pedas Indonesia