Bukan Cuma Soal Gengsi, Ini Alasan Gen Z Rela Berutang demi iPhone dan MacBook

Nadia Aulia • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 08:21 WIB
Ilustrasi Gen Z dengan gadget mahal dan beban cicilan. (RADARTUBAN/AI)
Ilustrasi Gen Z dengan gadget mahal dan beban cicilan. (RADARTUBAN/AI)

RADARTUBAN — Mengapa masih banyak anak muda yang rela mencicil, bahkan berutang, demi memiliki iPhone atau MacBook?

Pertanyaan ini menjadi semakin menarik ketika harga perangkat flagship mencapai puluhan juta rupiah, sementara pendapatan sebagian anak muda masih relatif terbatas.

Fenomena ini  dibahas dalam  kanal edukasi finansial Satu Persen - Indonesian Life School.

Berdasarkan data yang dipaparkan dalam video, rata-rata gaji bersih Gen Z usia 20–24 tahun di Indonesia berada di kisaran Rp 2,4 juta. Sementara itu, harga iPhone 16 Pro Max dapat mencapai Rp 32,9 juta.

Itu artinya, harga satu perangkatnya setara dengan lebih dari satu tahun pendapatan bagi sebagian anak muda.

Disisi lain, akses terhadap pinjaman digital semakin mudah. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Juli 2024 mencatat 11,3 juta rekening pinjaman online aktif dari kelompok usia 19–34 tahun, dengan total pinjaman mencapai Rp32,6 triliun.

Baca Juga: Marak Pembelian iPhone Lewat Pinjaman Digital, Pengamat Ungkap Psikologi Finansial Generasi Muda

Pada penjelasannya 'Satu Persen' membagi perilaku pembelian gadget mahal ke dalam empat tingkatan. 

Level pertama adalah implusif yakni membeli demi gengsi, menggunakan utang atau pinjol tanpa perencanaan yang matang. Cicilan bahkan dapat menghabiskan 30–40 persen pendapatan bulanan.

Kedua  level rasional terencana yaitu membeli secara tunai demi FOMO atau gengsi, tetapi mengorbankan tabungan dan dana darurat. Pada level rasional terencana, pembelian dilakukan karena kebutuhan pekerjaan dan telah diperhitungkan dalam anggaran.

Ketiga level productive leverage yakni melihat gadget sebagai alat untuk menghasilkan pendapatan.

Perangkat dibeli karena dapat membantu pekerjaan atau meningkatkan kemampuan dengan hasil yang diharapkan melebihi biaya pembeliannya.

Tingkatan tertinggi atau ke empat  adalah level naik kelas. Pada tahap ini, seseorang justru mampu mempertimbangkan untuk tidak membeli gadget baru dan mengalihkan uangnya pada investasi atau pengembangan keterampilan yang memiliki potensi keuntungan lebih besar.

Yang menjadi persoalan ,  keputusan membeli gadget tidak selalu lahir dari kebutuhan.

Dalam perspektif psikologi finansial, keinginan untuk memiliki merek tertentu dapat berkaitan dengan identitas sosial dan keinginan menjadi bagian dari kelompok tertentu. Keputusan emosional juga sering muncul lebih cepat daripada pertimbangan rasional.

Akibatnya, cicilan yang awalnya dianggap ringan dapat mengunci arus kas dalam jangka panjang. Seperti dikutip dari video Satu Persen, “kita gak punya ruang buat ambil peluang karena semua cash flow kita udah dikunci sama cicilan.”

Hal demikian  menunjukkan bahwa persoalan finansial Gen Z bukan semata-mata tentang mampu atau tidak membeli gadget mahal. Banyak yang justru belajar mengelola uang melalui pengalaman.

“Kebanyakan Gen Z belajar soal uang itu dari trial and error,” sehingga yang sering dilakukan gen z adalah memilih berutang  terlebih dahulu, mengalami kerugian (boncos) , lalu belajar mengatur cicilan setelah menyesal akhirnya.(*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Sumber : Youtube Satu Persen
utang macbook pinjol Gen Z iphone