Strategi dan Etika Menjawab Alasan Resign saat Wawancara Kerja Menurut Pakar Karir

Vannya Alysa P • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 10:42 WIB
Sesi wawancara kerja saat pelamar menyampaikan aspirasi dan perjalanan karirnya kepada rekruter. (Magnific)
Sesi wawancara kerja saat pelamar menyampaikan aspirasi dan perjalanan karirnya kepada rekruter. (Magnific)

RADARTUBAN - Menjawab alasan pengunduran diri dari perusahaan sebelumnya kerap menjadi salah satu momen paling krusial sekaligus mendebarkan dalam proses wawancara kerja.

Kesalahan dalam menyampaikan alasan dapat memberikan kesan negatif kepada rekruter dan mengurangi peluang pelamar untuk diterima.

Melalui materi edukasi yang dibagikan oleh Pejuang Weekdays di platform YouTube, menekankan pentingnya menjaga profesionalisme dengan menghindari pembicaraan bernada negatif mengenai tempat kerja sebelumnya maupun menceritakan detail internal secara berlebihan.

​"Di antara push dan pull, fokus ke pull factor. Lebih aman dan Anda bicara hal yang positif soal aspirasi serta ambisi Anda," dikutip dari Pejuang Weekdays.

Menurutnya, fokus utama saat menjawab pertanyaan tersebut sebaiknya dialihkan pada hal-hal positif yang mendorong pengembangan karir di masa depan.

Baca Juga: Viral! Medy Renaldy Berhasil Wawancarai Tom Holland, Zendaya, dan Jacob Batalon Sekaligus

Push factor merupakan alasan internal yang mendorong seseorang ingin keluar dari perusahaan, seperti lingkungan kerja yang kurang mendukung, ketidakcocokan dengan manajemen, atau beban kerja yang memicu kejenuhan. 

Sebaliknya, pull factor adalah daya tarik dari perusahaan tujuan yang memotivasi kandidat untuk melamar, seperti peluang memegang peran yang lebih strategis, kesempatan mempelajari keterampilan baru, atau ketertarikan pada visi perusahaan.

Penekanan pada pull factor akan menampilkan kandidat sebagai sosok yang berorientasi pada tujuan, berambisi positif, serta memiliki arah karir yang jelas.

Untuk menyusun jawaban yang terstruktur dan meyakinkan, pencari kerja disarankan untuk menerapkan kerangka kerja 3A, yaitu Appreciation (Apresiasi), Aspiration (Aspirasi), dan Alignment (Keselarasan).

Pendekatan ini diawali dengan memberikan apresiasi terhadap pengalaman dan keterampilan yang diperoleh di perusahaan lama, dilanjutkan dengan penyampaian aspirasi karir yang ingin dicapai, serta diakhiri dengan menyelaraskan tujuan pribadi tersebut dengan posisi yang sedang dilamar.

Tahap pertama adalah Appreciation, di mana kandidat mengawali jawaban dengan menyampaikan apresiasi atas pengalaman, keterampilan, dan kesempatan belajar yang telah didapatkan di perusahaan sebelumnya.

Langkah ini tidak hanya menunjukkan rasa terima kasih, tetapi juga menjadi sarana untuk menonjolkan pencapaian dan kompetensi relevan yang telah dibangun.

Tahap kedua adalah Aspiration, yaitu menjelaskan secara spesifik tujuan karir yang ingin dicapai selanjutnya. Kandidat dapat menyampaikan keinginan untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar atau memperluas cakupan peran.

Baca Juga: Tertipu Lowongan Kerja di TikTok, Gadis Asal Pasuruan Kehilangan Honda PCX Usai Wawancara Palsu

Tahap terakhir adalah Alignment, yang berfungsi menghubungkan antara aspirasi pribadi kandidat dengan posisi serta proyeksi pertumbuhan perusahaan yang dilamar.

Secara keseluruhan, kunci keberhasilan dalam menjawab alasan pengunduran diri terletak pada kemampuan menyajikan narasi perjalanan karir secara dewasa dan strategis.

Dengan mengombinasikan kerangka kerja 3A dan penekanan pada pull factor, kandidat dapat membangun citra diri yang profesional, memiliki kesadaran diri tinggi, serta siap memberikan kontribusi nyata bagi perusahaan yang baru. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Sumber : Youtube Pejuang Weekdays
perusahaan wawancara kerja pelamar