RADARTUBAN - Kebiasaan mendengar hanya untuk membalas, bukan untuk memahami, kini menjadi salah satu red flag utama dalam komunikasi modern yang dapat memicu kesalahpahaman serta merusak hubungan antarmanusia.
Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit orang yang tampak menyimak lawan bicara, padahal pikirannya sedang sibuk menyusun sanggahan, merancang jawaban, atau sekadar mencari celah untuk memberikan nasihat.
Fenomena memprihatinkan ini dibahas oleh Fakhruddin Faiz dalam sebuah tayangan di kanal YouTube SAY Inspiratif.
Dia menggarisbawahi semakin tergerusnya listening skill atau kemampuan mendengarkan secara mendalam di tengah dinamika kehidupan sosial masyarakat yang bergerak sangat cepat.
Baca Juga: Rahasia Komunikasi Terbuka: 8 Cara Membangun Keberanian Agar Anak Dapat Membela Diri
Bahaya Ego dan Fenomena Over-Advice
Kendala terbesar yang menghalangi seseorang untuk benar-benar mendengarkan adalah besarnya ego pribadi.
Ketika ada orang lain yang sedang mencurahkan isi hati atau membagikan masalahnya, seseorang sering kali tidak sabar menunggu hingga narasi cerita tersebut selesai disampaikan.
Alih-alih berusaha memahami situasi, dia justru terburu-buru memotong pembicaraan demi menyodorkan saran.
Kecenderungan memotong alur pembicaraan ini kerap berkembang menjadi perilaku over-advice, yaitu kondisi ketika seseorang terlalu cepat memberikan nasihat meskipun lawan bicara belum tentu membutuhkannya.
Faiz memaparkan bahwa dorongan tersebut bersumber dari hasrat untuk membuktikan diri, keinginan untuk menunjukkan bahwa dirinya lebih penting, lebih berpengetahuan, atau lebih mampu menyelesaikan persoalan.
Jebakan Echo Chamber dan Pencarian Pembenaran
Dampak buruk dari krisis kemampuan mendengarkan ini ternyata tidak berhenti pada ranah hubungan personal saja, tetapi juga merambah ke ranah sosial yang lebih luas.
Perbedaan pandangan di tengah masyarakat membuat orang makin sulit menyimak suara-suara yang berseberangan dengan prinsip mereka.
Kondisi tersebut makin diperparah oleh hadirnya media sosial yang turut memperkuat kecenderungan seseorang untuk hanya berada di dalam kelompok dengan pandangan seragam.
Akibatnya, seseorang berisiko hanya berburu informasi yang secara sepihak mendukung keyakinan pribadinya.
Mengenai fenomena penyempitan sudut pandang ini, Faiz menyentil kebiasaan masyarakat modern. “Kita tidak sedang mencari kebenaran, kita sedang mencari pembenaran.” ujarnya.
Ketika pola pikir tersebut telah mendominasi, ruang komunikasi tidak lagi berfungsi sebagai jembatan pemahaman, melainkan berubah menjadi panggung untuk mempertahankan ego masing-masing.
Manusia saat ini dinilai makin terasing dari empati karena menutup diri dari keberagaman perspektif.
“Manusia hari ini tuh hanya ingin mendengarkan gema suaranya sendiri,” tegas Faiz.
Memanusiakan Manusia Lewat Seni Mendengarkan
Dia menekankan pentingnya mengembalikan hakikat komunikasi dengan memandang lawan bicara sebagai sesama manusia yang memiliki pengalaman hidup serta hak penuh untuk menyampaikan pendapat.
“Kita tidak memanusiakan manusia. Kita menganggap orang lain itu objek saja yang harus mau atau harus bisa kita kontrol,” katanya.
Untuk mengatasi persoalan ini, seni mendengarkan membutuhkan perubahan cara pandang yang mendasar. Saat seorang kawan atau kerabat sedang berduka maupun menghadapi masalah berat, mereka tidak selalu membutuhkan rentetan nasihat panjang.
Terkadang, kehadiran fisik dan kesiapan untuk mengulurkan bantuan justru jauh lebih berarti.
“Tidak usah ngomong apa-apa, yakinkan saja padanya bahwa kamu siap membantu apa pun yang dia perlukan,” ujar Faiz.
Indikator komunikasi yang tidak sehat (red flag) tidak hanya terbatas pada tutur kata yang kasar atau perdebatan sengit. Ketidakmauan untuk benar-benar mendengarkan juga menjadi sinyal kuat bahwa sebuah komunikasi sedang tidak berjalan sehat.
Mendengarkan secara hakiki bukanlah sekadar kegiatan pasif menunggu giliran berbicara, melainkan sebuah ikhtiar aktif untuk memahami manusia di hadapan kita. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari