Jangan Selalu Hindari Konflik, Dr Jiemi Ardian Ungkap Cara Menghadapinya

Nadia Aulia • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 10:26 WIB
Dr.jiemi ketika menerangkan seni berkonflik yang baik. (Tangkapan layar Youtube dr. Jiemi Ardian)
Dr.jiemi ketika menerangkan seni berkonflik yang baik. (Tangkapan layar Youtube dr. Jiemi Ardian)

RADARTUBAN – Konflik sering dianggap sebagai sesuatu yang harus dihindari. Banyak orang memilih diam, mengalah, atau menahan perasaan demi menjaga hubungan tetap baik.

Namun, terlalu sering menghindari konflik justru dapat membuat hubungan terasa semakin jauh dan dingin.

Dr. Jiemi Ardian membahasa hak itu. Menurutnya, kemampuan mengelola konflik bukan sekadar keberanian untuk berdebat, melainkan keterampilan yang perlu dipelajari.

“Pernah enggak sih ngerasa bangga karena jarang berantem atau bahkan enggak pernah berantem sama orang lain? Tapi di saat bersamaan kamu terkesan menjadi semakin dingin, semakin enggak bisa hangat, enggak bisa dekat,” ujarnya.

Baca Juga: Akhiri Konflik Bertahun-tahun, Go Tjong Ping Jalani Ritual Pertobatan di Altar Kwan Sing Bio Tuban

Ketakutan terhadap konflik dapat terbentuk sejak masa kecil. Seseorang yang tumbuh dalam lingkungan penuh konflik bisa belajar bahwa cara paling aman untuk menghadapi masalah adalah dengan diam, menurut, dan menjadi “anak baik”.

“Sehingga seseorang belajar bahwa konflik itu sebaiknya dihindari. Kalau kita bisa ‘iya’ aja, kalau kita bisa nurut aja, kalau kita bisa jadi anak baik, kalau kita bisa cukup sekadar diam, maka sebenarnya semua akan selesai lebih cepat daripada kita melawan,” katanya.

Namun, keyakinan tersebut tidak selalu relevan ketika seseorang memasuki lingkungan dan fase kehidupan yang berbeda. Ia menyebut sebuah belief yang membantu seseorang melewati satu tahap kehidupan belum tentu dapat membawanya ke tahap berikutnya.

“Problemnya sebuah belief yang membantu kita dari titik A ke titik B... belum tentu atau bahkan tidak bisa membawa kita dari titik B ke titik C,” jelasnya.

Maka dari itu ,langkah awal yang perlu dilakukan adalah mempertanyakan kembali keyakinan lama tentang konflik. Misalnya, anggapan bahwa marah selalu buruk, konflik selalu salah, atau perbedaan pendapat pasti berujung pada perpisahan.

Meski demikian, Ia mengingatkan bahwa persoalan konflik yang berkaitan dengan trauma tidak cukup diselesaikan hanya dengan mengubah pola pikir. Trauma memiliki memori dan emosi yang membutuhkan penanganan profesional.

Setelah itu, kemampuan berkonflik juga perlu dilatih secara bertahap. 

“Berketerampilan berkonflik itu kayak keterampilan berenang. Enggak hanya karena kita berani nyemplung ke air kita jago berenang,” katanya.

Latihan dapat dimulai dari hal sederhana, seperti berani mengatakan tidak atau menyampaikan ketidaksetujuan. Sebab, konflik tidak selalu berarti pertengkaran.

“Karena pada akhirnya konflik itu bukan tentang siapa yang benar, siapa yang jahat, siapa yang salah, siapa yang baik. Bukan. Konflik itu tentang ada perbedaan yang perlu kita bicarakan untuk entah kita ketemu di tengah atau kita agree to disagree,” ujarnya.

Ternyata, berkonflik pun ada seninya. Bukan untuk mencari pemenang, melainkan menemukan cara menghadapi perbedaan. (*).

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Dr. Jiemi Ardian hubungan konflik