Minder Bukan Identitas Permanen, Buku The Alter Ego Effect Tawarkan Cara Bangun Kepercayaan Diri

Nadia Aulia • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 14:38 WIB
Buku The Alter Ego Effect karya Todd Herman. (pinterest.com)
Buku The Alter Ego Effect karya Todd Herman. (pinterest.com)

RADARTUBAN - Rasa minder kerap dianggap sebagai bagian dari kepribadian yang sulit diubah. Namun, buku The Alter Ego Effect karya Todd Herman menawarkan sudut pandang berbeda.

Buku tersebut memperkenalkan konsep alter ego sebagai cara untuk membantu seseorang meninggalkan sejenak identitas yang penuh keraguan dan mengakses sisi diri yang lebih percaya diri.

Gagasan itu dibahas Fellexandro Ruby dalam video kanal YouTube Fellexandro Ruby.

Melalui pembahasannya, ia  menjelaskan bagaimana konsep dalam buku tersebut dapat diterapkan ketika seseorang dituntut tampil lebih berani, baik di depan publik maupun dalam lingkungan kerja.

Menurutnya, kepercayaan diri tidak muncul begitu saja. Persiapan yang matang dan latihan berulang menjadi bagian penting dalam membangun keyakinan terhadap kemampuan diri.

Baca Juga: Sulit Disembunyikan: 8 Perilaku Egois yang Sering Tak Kamu Sadari

Namun, Penulis menawarkan satu pendekatan lain, yakni menciptakan identitas alternatif untuk membantu seseorang mengambil jarak dari identitas lama.

“Identitas yang baru ini sering kali kita perlukan untuk ngebangun confidence karena kita punya identitas lama yang kita pegang selama puluhan tahun,” kata Ruby.

Konsep itu dapat dilihat dari sejumlah figur publik. Penyanyi Beyonce, misalnya, menciptakan persona Sasha Fierce untuk membantunya tampil lebih berani dan dominan di atas panggung.

Persona tersebut menjadi sisi lain yang dapat ia gunakan ketika tampil di hadapan banyak orang.

Di dunia olahraga, mendiang pebasket Kobe Bryant juga dikenal dengan identitas Black Mamba. Identitas tersebut menjadi bagian dari mentalitas yang ia bangun untuk menjaga fokus, etos kerja, dan performanya di lapangan.

Menurut konsep Todd Herman, alter ego menciptakan jarak psikologis antara seseorang dengan identitas lamanya. Dengan begitu, seseorang tidak harus menghilangkan dirinya yang sebenarnya, tetapi dapat memilih karakter yang dibutuhkan dalam situasi tertentu.

“Dengan membentuk identitas baru, kita jadi berjarak antara identitas lama dengan identitas yang baru... Yes, untuk beberapa menit ke depan gua akan jadi orang baru ini,” ujar Ruby.

Pendekatan tersebut juga berkaitan dengan fenomena psikologi enclothed cognition. Pakaian atau benda tertentu yang dikenakan seseorang dapat memengaruhi cara berpikir dan perilakunya.

Baca Juga: Ditegur Atta Halilintar soal Ameena, Krisdayanti Akui Belajar Turunkan Ego sebagai Nenek

Karena itu, benda seperti jas, sepatu, atau aksesori tertentu dapat digunakan sebagai simbol untuk membantu seseorang memasuki peran yang diinginkan.

“Enclothed cognition: ketika orang memakai jubah yang baru, dia memunculkan identitas baru... ternyata itu terbawa sesederhana dari memakai pakaian tersebut,” jelas Ruby.

Maka untuk membangun alter ego, Todd Herman menyarankan seseorang menentukan figur atau role model yang ingin dijadikan inspirasi.

Karakter positif dari sosok tersebut kemudian dipilih, disesuaikan, dan dibentuk menjadi identitas baru. Identitas itu juga dapat diberi nama agar lebih mudah diakses ketika dibutuhkan.

Selain itu, diperlukan ritual khusus sebagai tanda peralihan. Kebiasaan sederhana sebelum tampil, bekerja, atau menghadapi situasi tertentu dapat menjadi jembatan psikologis untuk mengaktifkan alter ego.

Melalui gagasan dalam The Alter Ego Effect, seseorang diajak melihat bahwa rasa takut dan minder tidak harus selalu menentukan bagaimana dirinya bertindak.

Sebab, terkadang yang dibutuhkan bukan menjadi orang yang sama sekali berbeda, melainkan menemukan sisi diri yang selama ini belum berani ditampilkan.(*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
buku alter ego effect todd herman percaya diri minder