Beda Loneliness dan Aloneness, Praktisi Ungkap Alasan Keramaian Malah Bikin Kesepian

Nadiyatul Ul Ya • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 15:43 WIB
Ilustrasi remaja kesepian di tengah keramaian. (Radar Tuban/ AI)
Ilustrasi remaja kesepian di tengah keramaian. (Radar Tuban/ AI)

RADARTUBAN – Era hiperkonektivitas dan pesatnya perkembangan media sosial justru memicu ironi baru bagi masyarakat modern.

Kondisi terisolasi di tengah keramaian atau kesepian (loneliness) kini menjadi ancaman serius yang diklaim memiliki dampak fisik lebih berbahaya dibandingkan kebiasaan merokok maupun konsumsi alkohol secara rutin.

Fenomena krusial mengenai kesepian, kesehatan mental, hingga bahaya toxic masculinity tersebut dikupas tuntas dalam episode podcast Suara Berkelas bersama praktisi mindfulness sekaligus podcaster, Aji Santosa Putro.

Baca Juga: Tinggal Serumah Tapi Merasa Asing? Ini Bahaya Kesepian dalam Pernikahan

Aji menekankan pentingnya masyarakat memahami perbedaan mendasar antara aloneness (kesendirian) dan loneliness (kesepian).

Menurutnya, kesendirian merupakan sifat alamiah (true nature) manusia yang justru dibutuhkan sebagai ruang privat untuk bertahan hidup dan menjaga kesehatan mental.

Fenomena Over-Interaction dan Ancaman Kesepian Gen Z

Sebaliknya, kesepian di era modern kerap dipicu oleh interaksi berlebihan (over-interaction) melalui media digital.

Mengutip buku Alone Together, Aji menjelaskan bahwa ketergantungan pada gawai ketimbang relasi nyata membuat individu merasa tidak nyaman dalam membangun hubungan yang otentik.

Ancaman ini dibuktikan oleh data Health Collaborative Center (HCC) tahun 2023 yang mencatat separuh warga Jabodetabek mengalami kesepian.

Mayoritas penderita berada pada kelompok usia 18 hingga 20 tahun atau Generasi Z.

Popularitas maupun banyaknya pengikut di media sosial terbukti tidak menjamin seseorang terbebas dari jerat kesepian.

Langkah Berdamai dengan Kesepian dan Dampak Toxic Masculinity

Guna mengatasi persoalan tersebut, Aji menyarankan masyarakat untuk mulai bersahabat dengan kesendirian melalui praktik mindfulness.

Meluangkan waktu 10 hingga 30 menit sehari untuk duduk diam tanpa gangguan gawai dapat membantu mengenali pikiran dan perasaan secara lebih jernih.

Selain mindfulness, membangun relasi yang sehat juga menjadi kunci.

Baca Juga: Suka Bepergian Sendirian Bukan Berarti Kesepian, Ini Penjelasan Psikologinya

Mengutip pemikiran Simon Sinek, hubungan berkualitas justru tercipta saat seseorang memiliki keberanian untuk meminta bantuan (asking for help), serta menanyakan kabar orang lain secara tulus tanpa motif tersembunyi.

Di sisi lain, diskusi tersebut turut menyoroti beban emosional kaum pria akibat dogma toxic masculinity.

Stigma bahwa laki-laki tidak boleh terlihat lemah atau menangis dinilai menjadi pemicu emosi terpendam yang berisiko meledak menjadi tindakan agresif.

Aji menegaskan bahwa mengekspresikan emosi, bercerita, hingga menangis adalah hal yang wajar bagi setiap manusia.

Masyarakat yang mengalami tekanan berat diimbau untuk tidak ragu meningkatkan literasi kesehatan mental serta berkonsultasi dengan tenaga profesional. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
interaksi berlebihan Gen Z kesendirian kesepian Mindfulness