RADARTUBAN — Saat berkunjung ke toko buku atau menelusuri platform penjualan daring, pembaca kerap menjumpai berbagai label prestisius di sampul buku, seperti New York Times Bestseller maupun USA Today Best-Selling Author.
Fenomena tersebut sering menimbulkan pertanyaan. Mengapa begitu banyak buku yang tampak menyandang predikat bestseller?
Apakah sebagian besar buku memang berhasil meraih penjualan luar biasa, atau ada mekanisme tertentu di balik sistem pemeringkatan industri penerbitan?
Pertanyaan itu dibahas oleh penulis fantasi ternama Brandon Sanderson melalui video yang diunggah di kanal YouTube pribadinya.
Baca Juga: Perombakan Buku Pelajaran: Antara Urgensi dan Proyek
Dalam penjelasannya, Sanderson mengulas cara kerja daftar bestseller, perbedaan metodologi antar lembaga pemeringkat, hingga alasan mengapa label tersebut begitu sering ditemui pada berbagai buku.
"Ada alasan mengapa hampir semua buku yang Anda lihat di rak toko buku tampaknya adalah New York Times Bestseller," ujar Sanderson dalam video tersebut.
Menurutnya, banyaknya buku berlabel bestseller tidak terlepas dari keberadaan berbagai daftar pemeringkatan yang menggunakan kriteria berbeda-beda.
Media, toko buku, hingga platform penjualan digital memiliki sistem perhitungan masing-masing dalam menentukan buku terlaris.
Selain itu, strategi pemasaran turut berperan besar dalam pencapaian status tersebut.
Salah satu metode yang umum digunakan adalah memaksimalkan pemesanan awal atau pre-order sebelum tanggal peluncuran resmi.
Penjualan yang terkumpul selama masa pre-order sering kali dihitung bersamaan pada minggu pertama perilisan.
Akibatnya, sebuah buku dapat mencatat lonjakan penjualan dalam waktu singkat dan berpeluang masuk ke daftar bestseller mingguan.
Meski demikian, Sanderson menekankan bahwa posisi tinggi dalam daftar bestseller belum tentu mencerminkan performa penjualan jangka panjang sebuah buku.
"Kalau kita cermati, banyak label bestseller itu sebenarnya hanya mencerminkan lonjakan penjualan sementara, terutama dari akumulasi pre-order, bukan penjualan konsisten dari waktu ke waktu," jelasnya.
Ia juga menyoroti sistem pada platform digital seperti Amazon yang memungkinkan sebuah buku menjadi nomor satu dalam kategori yang sangat spesifik untuk periode tertentu.
Setelah memperoleh pencapaian tersebut, label bestseller kerap tetap digunakan sebagai bagian dari promosi buku maupun penulis.
Di sisi lain, Sanderson menilai keberhasilan jangka panjang tetap ditentukan oleh respons pembaca terhadap isi buku itu sendiri.
Status bestseller dapat membantu menarik perhatian publik, tetapi daya tahan sebuah karya bergantung pada apakah pembaca terus merekomendasikan dan membacanya dari waktu ke waktu.
Melalui penjelasan tersebut, Sanderson memberikan gambaran mengenai cara kerja industri perbukuan modern.
Label bestseller pada sampul buku dapat mencerminkan keberhasilan penjualan dalam periode tertentu, tetapi tidak selalu menggambarkan keseluruhan perjalanan sebuah karya di pasar. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni