“Penyakit itu bukan invention, tapi discovery. Diperiksa atau enggak, penyakit itu sudah ada,” kata dr. Andres.
Dalam menghadapi kabar buruk, terdapat enam tahapan respons emosional. Tahap pertama adalah denial atau penolakan.
Seseorang dapat merasa tidak percaya dan berusaha meyakinkan diri bahwa kondisi yang dialaminya tidak mungkin terjadi.
Baca Juga: 6 Kebiasaan Orang yang Selalu Bangun Pagi dengan Perasaan Bahagia
Tahap kedua adalah anger atau kemarahan. Setelah penolakan mulai berkurang, emosi dapat berubah menjadi marah, kecewa, atau mempertanyakan keadaan yang sedang dihadapi.
Tahap ketiga adalah bargaining atau tawar-menawar. Pada fase ini, seseorang dapat mulai berpikir tentang berbagai kemungkinan agar keadaan kembali seperti semula.
Tahap keempat adalah depression atau kesedihan mendalam. Kenyataan mulai terasa lebih berat sehingga seseorang dapat kehilangan semangat dan merasa terbebani oleh kondisi yang dialaminya.
Tahap kelima adalah acceptance atau penerimaan. Bukan berarti seseorang menyukai keadaan tersebut, melainkan mulai mengakui kenyataan dan memikirkan langkah yang dapat dilakukan.
Tahap keenam adalah adaptasi dan melanjutkan hidup. Setelah menerima kenyataan, perhatian perlahan diarahkan pada hal-hal yang masih dapat dikendalikan, termasuk menjalani pengobatan, mengubah kebiasaan, dan meminta bantuan ketika diperlukan.
Menurut dr. Andres, ketakutan terhadap diagnosis terkadang bukan hanya karena takut mengetahui nama penyakit.
Seseorang juga dapat takut terhadap konsekuensi yang muncul setelah diagnosis, termasuk perubahan gaya hidup dan tanggung jawab menjalani pengobatan.
Karena itu, ia mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan keluhan yang menetap atau mengganggu aktivitas sehari-hari.
“Lebih baik lebai daripada abaikan,” Ujarnya.
Bagi pasien yang menerima diagnosis, mencari second opinion dan menyiapkan daftar pertanyaan sebelum berkonsultasi juga dapat membantu.
Dengan begitu, pasien tidak harus menghadapi kabar buruk seorang diri, tetapi dapat memahami kondisi dan menentukan langkah perawatan bersama tenaga medis.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni