RADARTUBAN – Kesulitan mengatakan kata “tidak” kepada orang lain sering kali memaksa seseorang untuk mengabaikan kebutuhan dan kondisi diri sendiri.
Kondisi tersebut dibahas dalam podcast Coming Home di kanal YouTube Irenethejournal sebagai salah satu pola people pleasing yang erat kaitannya dengan rasa takut berlebih terhadap konflik dan penolakan.
People pleasing merupakan kecenderungan seseorang untuk terus berusaha menyenangkan orang lain meski harus mengesampingkan kondisi pribadinya.
Baca Juga: Bukan Sekadar Dear Diary, Ini Manfaat Jurnaling Bagi Kesehatan Mental Menurut Psikiater
Kebiasaan ini umumnya terlihat dari dorongan untuk selalu mengiyakan setiap permintaan, meminta maaf secara berlebihan, hingga munculnya rasa bersalah yang mendalam ketika orang lain merasa kecewa.
Menurut penjelasan Irene, pola perilaku tersebut sangat berkaitan dengan pengalaman atau pengasuhan di masa kecil.
Seseorang yang terbiasa baru mendapat penerimaan atau kasih sayang saat menuruti keinginan orang lain dapat tumbuh dengan doktrin bahwa penolakan atau kemarahan merupakan ancaman yang wajib dihindari.
“Karena kamu masih trauma dengan konflik dan penolakan,” ujarnya dalam tayangan tersebut.
Terbawa Hingga Dewasa dan Bikin Emosi Terkuras
Pola relasi yang tidak sehat tersebut berpotensi kuat terbawa hingga seseorang memasuki usia dewasa.
Dalam ranah pertemanan maupun lingkungan kerja, seorang people pleaser cenderung tetap menerima ajakan atau limpahan tugas meski kondisi fisiknya sedang lelah, semata-mata karena khawatir mengecewakan orang lain.
Kebiasaan menumpuk itu perlahan membuat energi emosional seseorang merasa terkuras.
Perasaan tidak nyaman, lelah, dan rasa jengkel juga dapat tertimbun secara membahayakan ketika seseorang terus-menerus mengesampingkan keinginan serta kapasitas dirinya sendiri.
Solusi Jeda 3 Detik hingga Boundary Journaling
Untuk mengatasi kecenderungan ini, Irene menyarankan agar seseorang tidak terburu-buru memberikan jawaban langsung ketika menerima suatu permintaan dari orang lain.
Memberikan jeda singkat sangat membantu pikiran dalam mempertimbangkan apakah bantuan tersebut memang sanggup diberikan atau hanya dilakukan karena ketakutan untuk menolak.
“Jangan langsung jawab iya. Latih diri kamu untuk kasih jeda 3 detik,” jelasnya.
Selain memberikan jeda waktu berpikir, kebiasaan meminta maaf secara berlebihan juga dapat dikurangi dengan mentransformasi gaya komunikasi menjadi lebih tegas namun tetap santun.
Salah satunya dengan mengganti ucapan “maaf” menjadi ungkapan apresiasi, seperti kalimat “terima kasih sudah sabar menunggu” saat terlambat membalas pesan.
Langkah konkret lain yang dipaparkan adalah teknik boundary journaling, yakni metode mencatat hal-hal apa saja yang memicu rasa tidak nyaman beserta batasan tegas yang perlu diterapkan.
Cara ini terbukti membantu seseorang mengenali kebutuhan hakiki dirinya dan menentukan respons yang lebih proporsional.
Pada akhirnya, menetapkan batasan diri bukan berarti menjadi pribadi yang acuh atau egois. Seseorang tetap dapat menghargai orang lain tanpa harus mengorbankan kesehatan mentalnya sendiri.
Perubahan dapat dimulai dari keberanian sederhana untuk mengatakan "tidak" pada hal-hal yang berada di luar kemampuan diri. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari