RADARTUBAN - Self love atau mencintai diri sendiri kerap dimaknai sebatas melakukan hal-hal yang menyenangkan, seperti berbelanja, bepergian, atau mencari hiburan.
Padahal, konsep tersebut tidak hanya berkaitan dengan kesenangan, tetapi juga kemampuan memahami kondisi diri dan mengetahui apa yang benar-benar dibutuhkan.
Hal itu disampaikan Roma Nainggolan dalam kanal Folknomics #1 Fintainmeng yang membahas cara mengubah kehidupan melalui self love dan pengelolaan diri.
Menurutnya, mencintai diri sendiri berkaitan dengan penerimaan diri, kemampuan menghadapi pengalaman masa lalu, serta keberanian mengambil keputusan yang tidak merugikan diri sendiri.
Baca Juga: Self-Serving Bias: Kenapa Kita Sering Menyalahkan Orang Lain Saat Gagal?
Menurut Roma, langkah awal untuk membangun hubungan yang lebih baik dengan diri sendiri adalah menerima kondisi diri secara utuh, termasuk kelebihan maupun kekurangan.
“Langkah pertama adalah menerima diri sendiri,” ujar Roma.
Penerimaan tersebut membantu seseorang mengenali bagian dalam dirinya yang masih perlu dikembangkan tanpa terus menyalahkan diri atas berbagai hal yang sudah terjadi.
Belajar dari Masa Lalu dan Mengenali Diri
Setelah mampu menerima diri, seseorang perlu memahami berbagai pengalaman yang ikut membentuk pola pikir dan perilakunya.
Pengalaman tidak menyenangkan maupun kegagalan dapat menjadi bahan evaluasi untuk mengetahui kebiasaan atau pola yang perlu diubah.
Proses tersebut juga berkaitan dengan resiliensi, yakni kemampuan untuk bangkit setelah menghadapi tekanan maupun kesulitan.
Dalam kehidupan sehari-hari, self love dapat diterapkan melalui berbagai kebiasaan sederhana. Salah satunya menyediakan waktu untuk diri sendiri atau me time.
Waktu tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengenali pikiran dan perasaan, misalnya dengan menulis jurnal, melakukan afirmasi, atau sekadar beristirahat.
Memberikan ruang bagi diri sendiri juga dapat membantu seseorang memahami kondisi emosional yang sedang dihadapi.
Perhatian terhadap kesehatan fisik juga tidak kalah penting.
Menjaga kondisi tubuh, memilih aktivitas yang bermanfaat, serta menghindari kebiasaan yang memberikan dampak buruk merupakan bagian dari mencintai diri sendiri.
Termasuk kemampuan mengatakan tidak terhadap sesuatu yang merugikan diri.
Sikap tersebut menjadi salah satu bentuk penerapan batasan pribadi agar seseorang tidak terus berada dalam situasi yang memberikan dampak negatif.
Tak Perlu Memaksakan Diri dalam Proses Pemulihan
Dalam menghadapi pengalaman masa lalu, Roma menilai setiap orang memiliki proses yang berbeda.
Seseorang tidak perlu memaksakan diri untuk segera memaafkan pihak yang pernah menyakitinya apabila kondisi emosional belum memungkinkan.
“Kalau belum bisa memaafkan maka jangan,” jelasnya.
Mengambil jarak dari sumber masalah dapat menjadi pilihan untuk memberikan ruang kepada diri sendiri.
Setelah kondisi lebih tenang, seseorang dapat menentukan langkah berikutnya dengan lebih jernih tanpa harus memaksakan proses pemulihan dalam waktu singkat.
Roma juga menekankan bahwa perubahan dalam diri membutuhkan proses.
Setiap orang memiliki pengalaman, kebutuhan, dan kemampuan menghadapi masalah yang berbeda sehingga tidak bisa menggunakan ukuran yang sama.
Kesabaran diperlukan ketika seseorang mulai membangun kebiasaan baru sekaligus meninggalkan pola lama yang sudah tidak memberikan manfaat.
Dengan demikian, self love bukan sekadar melakukan healing atau mencari kesenangan sesaat.
Mencintai diri berarti memahami kondisi pribadi, menerima kekurangan, belajar dari pengalaman, menjaga kesehatan, serta menetapkan batasan yang diperlukan.
Proses tersebut pada akhirnya dapat membantu seseorang menjalani kehidupan dengan lebih sadar dan mengambil keputusan yang sesuai dengan kebutuhan dirinya. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari