RADARTUBAN - Keberanian menjadi diri sendiri terkadang harus dibayar dengan penolakan. Psikolog Nago Tejena, M.Psi, menilai seseorang tidak harus mengorbankan nilai dan kepribadiannya hanya demi mendapatkan penerimaan dari lingkungan.
Hal tersebut disampaikan Nago Tejena dalam kanal YouTube Suara Berkelas saat membahas pentingnya hidup autentik atau menjalani kehidupan sesuai dengan diri sendiri.
Menurutnya, keinginan untuk diterima orang lain kerap membuat seseorang mengesampingkan nilai yang sebenarnya diyakini.
“Aku sering bilang kalau penolakan adalah harga dari menjadi diri sendiri,” ujar Nago.
Baca Juga: Menjadi Baik Adalah Cara Menghargai Diri Sendiri
Tekanan Lingkungan Bisa Membuat Seseorang Kehilangan Arah
Setiap orang memiliki latar belakang, kepribadian, dan nilai yang berbeda. Karena itu, menurut Nago, seseorang tidak perlu memaksakan diri mengikuti standar orang lain hanya agar dianggap sesuai atau diterima.
Menjadi diri sendiri bukan berarti mengabaikan pendapat orang lain. Hal yang lebih penting adalah mampu menentukan pilihan berdasarkan nilai dan keinginan pribadi, bukan semata-mata mengikuti tuntutan lingkungan.
Tekanan tersebut bisa datang dari berbagai arah, mulai dari keluarga, pertemanan hingga media sosial.
Seseorang mungkin mengubah cara berpikir, gaya hidup, bahkan pilihan pekerjaan agar sesuai dengan harapan orang lain.
Jika terus dilakukan tanpa mempertimbangkan keinginan sendiri, seseorang berisiko merasa tidak nyaman dengan kehidupan yang dijalani.
Terlebih ketika berbagai tuntutan dan ekspektasi membuatnya semakin sulit mengenali apa yang sebenarnya diinginkan.
Nago mencontohkan seseorang yang memilih pekerjaan atau mengejar pencapaian tertentu karena mengikuti standar masyarakat.
Pilihan itu tidak serta-merta membuat seseorang kehilangan autentisitas jika memang sesuai dengan keinginan pribadinya.
Sebaliknya, ketika keputusan diambil hanya demi memenuhi ekspektasi orang lain, seseorang bisa semakin jauh dari nilai dan keinginan dirinya sendiri.
Penolakan Bukan Berarti Harus Mengubah Diri
Tantangan untuk hidup autentik juga muncul di era media sosial. Jejak digital membuat pandangan atau kesalahan seseorang pada masa lalu dapat kembali diperbincangkan dan dinilai, meskipun manusia terus berkembang dan mengalami perubahan.
Baca Juga: Jangan Halangi Diri Sendiri, Simak Tips Membangun Kekuatan Emosional Menurut Psikologi
Kondisi tersebut dapat membuat seseorang ragu menunjukkan dirinya secara terbuka karena khawatir mendapat penilaian negatif.
Namun, Nago menilai penolakan tidak selalu harus dihindari. Keberanian menunjukkan diri apa adanya juga membuka kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang yang memiliki nilai dan ketertarikan serupa.
“Justru ketika kamu menjadi diri sendiri akan ada yang menolak, tapi kamu akan ada juga yang menerima,” kata Nago.
Hubungan yang terbentuk dari kesamaan nilai dan penerimaan terhadap karakter masing-masing berpeluang berkembang lebih sehat karena tidak dibangun di atas kepura-puraan.
Autentik Bukan Berarti Harus Melawan Lingkungan
Menjalani hidup secara autentik juga tidak berarti seseorang harus menentang semua nilai yang berlaku di masyarakat.
Seseorang tetap bisa mengejar kekayaan, karier, membangun keluarga, atau meraih pencapaian tertentu selama pilihan tersebut memang sesuai dengan keinginan pribadinya.
Persoalannya bukan terletak pada tujuan yang dipilih, melainkan alasan di balik keputusan tersebut. Pilihan yang berasal dari kesadaran diri berbeda dengan keputusan yang diambil semata-mata karena takut dinilai buruk atau tidak diterima orang lain.
Karena itu, penerimaan dari semua orang tidak seharusnya menjadi satu-satunya ukuran dalam menjalani kehidupan.
Mengenali nilai diri, menentukan pilihan secara sadar, dan menerima kemungkinan penolakan menjadi bagian penting agar seseorang tidak kehilangan jati dirinya hanya demi menyenangkan orang lain. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni