RADARTUBAN - Beberapa waktu lalu, sebuah video di TikTok memperlihatkan seorang bapak-bapak yang kaget saat memesan “cassava fries” di sebuah kafe.
Dia mengira akan mendapat sesuatu yang fancy, tapi yang datang justru... singkong goreng.
Reaksi spontan itu mengundang tawa sekaligus pertanyaan: kenapa makanan yang kita kenal sehari-hari bisa terasa beda hanya karena diganti istilah asing?
Hal serupa terjadi saat teman saya bilang suka banget minuman rasa “taro”. Ketika saya tanya, “Taro itu apa?” ia cuma mengangkat bahu.
Setelah saya cari tahu, ternyata taro adalah talas. Iya, talas yang biasa kita temui di pasar, kadang jadi bahan kolak, kadang juga cuma lewat di pinggir jalan.
Tapi ketika jadi “taro”, ia berubah jadi rasa minuman kekinian yang bisa dijual mahal.
Bahasa Asing Sebagai Strategi Branding
Fenomena ini bukan hal baru. Dalam dunia kuliner, penggunaan istilah asing sering kali jadi strategi branding. “Ice tea” terdengar lebih mahal daripada “es teh”, padahal isinya sama.
“Cassava chips” lebih menggoda daripada “keripik singkong”.
Bahkan “potato wedges” bisa dihargai dua kali lipat dibanding “kentang goreng tebal”.
banyak UMKM yang mulai menggunakan istilah asing untuk memperluas pasar, terutama ekspor.
Produk seperti keripik talas dan singkong dikemas dengan label “taro” dan “cassava” agar lebih mudah diterima di pasar internasional.
Strategi ini terbukti efektif, karena konsumen cenderung mengasosiasikan istilah asing dengan kualitas dan modernitas.
Psikologi Konsumen: Antara Penasaran dan Tidak Peduli
Ada dua tipe konsumen dalam kasus ini. Pertama, mereka yang penasaran dan merasa “cassava” atau “taro” adalah sesuatu yang baru dan eksotis.
Kedua, mereka yang sebenarnya tahu itu cuma singkong atau talas, tapi tetap beli karena kemasannya menarik dan rasanya enak.
Dan memang, nggak ada yang salah. Selama produk itu jelas, aman, dan tidak menipu, penggunaan istilah asing bisa jadi cara kreatif untuk meningkatkan nilai jual.
Bahkan bisa jadi bentuk apresiasi terhadap bahan lokal yang selama ini dianggap “biasa”.
Jadi, kalau kamu pesan “taro latte” atau “cassava fries”, jangan kaget kalau yang datang adalah talas dan singkong. Karena kadang, yang membuat makanan terasa spesial bukan bahan dasarnya, tapi cara kita mengemas dan menyebutnya.
Dan kalau ada yang bilang, “Lho, ini kan cuma singkong?” Jawab aja santai, “Iya, tapi ini singkong yang sudah naik kelas.” (*)
Editor : Yudha Satria Aditama