Dikonfirmasi Jawa Pos Radar Tuban, Kepala Pelaksana BPBD Tuban Sudarmaji membenarkan hal tersebut. Dia mengatakan, rapat yang membahas mitigasi bencana kekeringan di Bumi Ronggolawe pada pekan ini akan dihadiri para camat se-Kabupaten Tuban. ‘’Sementara baru para camat yang akan dilibatkan. Bencana kekeringan ini akan dimitigasi per kecamatan dulu,‘’ tutur mantan kepala Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman (DPRKP) Tuban itu.
Setelah bencana kekeringan sudah dimitigasi per kecamatan, lanjut dia, mitigasian bencana akan ditingkatkan ke skala kabupaten. Wilayah mana saja yang berpotensi mengalami bencana kekeringan? Darmaji belum menyampaikan. Dia menerangkan, BPBD Tuban paling terakhir merekap data kekeringan pada 2021. Setelah itu, pada 2022 tidak ada pembaruan data karena tahun tersebut tidak ada bencana kekeringan.
Mengacu data 2021, beber Darmaji, wilayah kecamatan di Bumi Ronggolawe yang berpotensi dilanda bencana kekeringan meliputi Semanding, Grabagan, Rengel, Soko, Parengan, Merakurak, Montong, Jatirogo dan Kenduruan. Sebagaimana diketahui, musim kemarau 2023 ini berpotensi bencana kekeringan. Sebab, musim kemarau tahun ini sifatnya lebih kering dan panjang. Berbeda dengan kemarau 2022 yang sifatnya basah.
Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Tuban memerkirakan, puncak musim kemarau tahun ini berlangsung Agustus. Versi BMKG, tiga kecamatan berpotensi dilanda bencana kekeringan, yakni Senori, Parengan, dan Soko.(sab/ds) Editor : Administrator