Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Cethe Dikenalkan di Jakarta Coffee Week 2023, Pegiat Seni: Tradisi Ala Warung Kopi

Dwi Setiyawan • Minggu, 5 November 2023 | 21:09 WIB
Hasil karya seni cethe yang diperlihatkan di Jakarta Coffee Week 2023. (ANTARA)
Hasil karya seni cethe yang diperlihatkan di Jakarta Coffee Week 2023. (ANTARA)

RADARTUBAN-Cethe atau seni menghias rokok menggunakan ampas kopi khas Tulungagung, Jawa Timur diperkenalkan di ibu kota dalam even Jakarta Coffee Week 2023.

Seni tradisional ala warung kopi ini mirip dengan seni menghias rokok di Rembang, Jawa Tengah yang disebut nglelet. 

Komunitas pegiat cethe Tulungagung yang membawa seni tradisional tersebut go nasional. “Seni ini berasal dari Tulungagung, Jawa Timur, dan seni ini sudah menjadi seperti tradisi, sehingga Tulungagung selain disebut sebagai Kota Marmer juga disebut Kota Cethe,” kata Dany Agus Setiawan, salah satu pegiat Cethe di ICE BSD City, Tangerang, Banten, Sabtu (4/11), dikutip dari Antara.

Dia menerangkan, sebelum digunakan untuk menghias rokok, ampas kopi dikeringkan dengan ditutup tisu selama beberapa lama. Material ini kemudian dicampur dengan susu kental manis. Perbandingannya 2:1. Jika masih terlalu kental, kata Dany, campuran tersebut dapat ditambahkan susu kental manis lagi atau air agar mudah digunakan untuk menghias rokok menggunakan tusuk gigi.

Dany mengungkapkan, kompetisi seni cethe digelar setiap beberapa bulan sekali di Tulungagung. Setiap seniman yang berpartisipasi memiliki teknik dan ciri khas masing-masing.

“Ada yang suka menggambar motif batik, simetris, atau abstrak,” jelasnya. 

Penjurian kompetisi cethe memiliki beberapa kriteria penilaian, seperti keunikan motif, kerapian hasil karya, serta kebersihan gambar.

Dany menyebut pelukis seni cethe harus memperhatikan racikan ampas kopi yang digunakan sebagai ‘’cat” menggambar. Itu karena jika cairan tersebut terlalu basah, pinggiran dari motif yang dibuat lama kelamaan akan berwarna cokelat.

“Kalau racikannya pas, setelah kering nanti warnanya bisa bertahan sampai setahun jika disimpan dalam wadah kedap udara,” ucap Dany.

Jika racikan cethe yang dihasilkan tepat, maka motif yang digambar akan tetap berwarna hitam walaupun cairan ampas kopi sudah kering. Karena itu, sebaiknya kopi yang digunakan untuk menghasilkan seni cethe adalah jenis kopi ijo khas Tulungagung. Itu karena ampas kopi lokal tersebut berwarna hitam pekat.

Di Rembang, nglelet juga menggunakan kopi khusus dan warnanya cenderung lebih coklat.

Menurut Dany, sebagian besar pelaku seni cethe melakukan hal tersebut hanya sebagai hobi, namun tidak sedikit pula hasil karya mereka yang dijual untuk koleksi. (ds)

Editor : Kifani Amalija Putri
#nglelet #cethe #seni tradisi #ampas kopi #kopi #menghias rokok #Jakarta Coffee Week 2023