Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

TNI AU Terjunkan Tim Internal untuk Investigasi Jatuhnya Dua Pesawat Tempur Super Tucano

Dwi Setiyawan • Sabtu, 18 November 2023 | 17:34 WIB
Photo
Photo

RADARTUBAN-TNI Angkatan Udara (AU) masih menginvestigasi penyebab jatuhnya dua pesawat tempur EMB-314 Super Tucano di Pasuruan, Kamis (16/11).


Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau) Marsekal Pertama TNI R. Agung Sasongkojati mengatakan, dua pesawat tempur EMB-314 Super Tucano yang jatuh termasuk model dan seri baru yang sudah dilengkapi perangkat seperti flight data recorder (FDR). Berbeda dengan pesawat tempur dari model dan jenis yang lama.

FDR pesawat tempur EMB-314 Super Tucano, terang dia, merekam dan menyimpan data teknis pesawat. Mulai dari ketinggian, kecepatan, kendali, hingga posisi pesawat.

‘’Data tersebut berguna untuk menyelidiki penyebab pesawat manakala mengalami insiden, misalnya jatuh,’’ ujar Kadispenau dalam umpa pers di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (17/11), dikutip dari Antara.


Dia menegaskan, sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki TNI AU cukup andal. Karena itu, investigasi jatuhnya dua pesawat tempur tersebut cukup melibatkan tim internal. Yakni, tim inti dari Pusat Kelaikan dan Keselamatan Terbang Kerja TNI Angkatan Udara didampingi tim dari Skadron Teknik dan Depo Teknik didampingi pasukan dari Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat).


Jumlah personel yang terlibat dalam dua tim tersebut masing-masing sepuluh personel, namun bisa lebih banyak lagi karena diperlukan personel yang ditugaskan mengangkut puing pesawat yang jatuh.


Kadispenau menyebut tim investigasi TNI AU yang dipimpin langsung Komandan Puslaiklambangjaau Marsekal Muda TNI Benedictus Benny Koessetianto, umat (17/11) pagi berhasil mencapai lokasi jatuhnya pesawat, yang berada di ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut (mdpl).


Tidak hanya lokasinya yang tinggi, lokasi jatuhnya pesawat juga berada di sekitar lereng gunung dan perkebunan warga.


Menurut dia, investigasi tidak perlu melibatkan institusi luar. ‘’Kami sudah bisa melaksanakan sendiri. Kami juga lulusan dari sekolah-sekolah investigasi di luar (negeri), yang cukup andal. Khususnya di bidang militer,” kata dia.


Lebih lanjut, Agung menjelaskan, investigasi pesawat jatuh tidak hanya menganalisa data pesawat pada FDR yang berhasil ditemukan, namun juga harus melihat rangkaiannya. “Mudah-mudahan bisa kami baca untuk bisa memberi penjelasan lebih lanjut,” kata dia.


Dua pesawat tempur taktis EMB-314 Super Tucano TNI AU jatuh di lereng Gunung Bromo, kawasan Taman Nasional Gunung Bromo, Tengger, Semeru, di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Kamis (16/11), saat menjalani sesi profisiensi latihan formasi bersama dua pesawat tempur Super Tucano lainnya.


Akibat insiden tersebut, empat perwira menengah (pamen) TNI AU meninggal dunia. Mereka adalah Letkol Pnb Sandhra Gunawan (Komandan Skadron Udara 21) saat itu bertugas menerbangkan pesawat dengan nomor registrasi TT-3111 bersama Kolonel Adm Widiono Hadiwijaya (Kepala Dinas Personel Lanud Abdulrachman Saleh).


Sedangkan pesawat dengan nomor registrasi TT-3103 diterbangkan Mayor Pnb Yuda A. Seta (Kepala Ruang Operasi Lanud Abdulrachman Saleh) dan di kursi penumpang Kolonel Pnb Subhan (Danwing Udara 2 Lanud Abdulrachman Saleh).(ds)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#investigasi #angkatan udara #Tucano #tni au #personel #jatuh #SDM #TNI #pesawat #Komandan