RADARTUBAN – Dirty Vote, film dokumenter berisi kecurangan-kecurangan Pemilu 2024 yang tayang di YouTube menjadi perbincangan hangat di seluruh media sosial tanah air.
Terlebih, film dokumenter tersebut memberikan keterangan tiga ahli hukum negara.
Di antaranya, Zainal Arifin Mochtar, Bivitri Susanti, dan Feri Amsari.
Film yang tayang perdana, Minggu (11/2) tersebut telah ditonton sebanyak 4,6 juta kali dengan tanggapan komentar sebanyak 45 ribu.
Seperti pada sosial media X, Dirty Vote menjadi trending pertama dengan unggahan sebanyak 564 ribu.
Akun X dengan nama pengguna @BosPurwa mengunggah sebuah video pernyataan Jusuf Kalla mengenai film tersebut.
Dalam unggahan Senin (12/2) pukul 13.03 tersebut, Jusuf Kalla menyatakan bahwa film tersebut masih ringan, hanya menampilkan 25 persen kecurangan saja.
“Tapi bagi saya, saya kira info film itu masih ringan dibanding kenyataan yang ada di luaran sana. Masih tidak semuanya. Mungkin baru 25 persen,” ungkapnya.
Akun dengan nama pengguna @Bluejackyy memberikan pendapatnya mengenai unggahan tersebut.
“Intinya Dirty Vote ini mengungkap hal yang jelas dapat diakses semua pihak. Sehingga aman dari tuduhan fitnah dan ranah rahasia. Walaupun banyak hal busuk yg tersembunyi yang tak semua pihak dapat mengaksesnya. Yang kasat mata saja segini kotornya apalagi yang tersembunyi?” ungkapnya.
@talrking turut mengekspresikan diri melalui komentar. Dia mengaku menangis meski baru 25 persen fakta yang dinyatakan dalam film tersebut.
“Literally Dirty Vote isinya 90 persen statistik hasil riset, sama bukti pendukung dalam bentuk video dan foto. No opinion nor assumption also ga ada ajakan. Dan itu cuman 25 persen yang dibahas dan masih sopan? Segitu aja gue nangis kejer apalagi dibongkar semua. Ancur,” ketiknya di kolom komentar.
Namun, warga TikTok memberi tanggapan yang berbeda mengenai film tersebut.
Melalui unggahan video Dirty Vote bagian tiga pada akun @gsaroso.id, kebanyakan komentar menganggap bahwa film tersebut hasil dari tim 01 dan tim 03 untuk menjatuhkan suara 02.
‘’Hasil tugas kelompok 1 dan 3,’’ ketik akun @papaboui.
Akun dengan nama pengguna @mulderjon juga menyinggung tiga pembicara yang ada pada film tersebut.
“Yang buat film itu ternyata tiga 3 orang pakar hukum yg dimn dia ank buah mahfud md saat beliau masih menjabat menkopolhukam, sudah ketebak arahnya kmn,” ungkapnya.(aan)