RADARTUBAN-Setelah banjir melanda Kabupaten Demak, Jawa Tengah sekitar dua pekan pada awal Februari lalu, isu Selat Muria kembali mengemuka.
Selat Muria merupakan selat yang pernah ada dan memisahkan Pulau Jawa dan Pulau Muria.
Kajian tersebut disampaikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari mengatakan, perlu pemahaman yang komprehensif terkait karakteristik sumber bahaya geologi untuk melakukan mitigasi bencana secara efektif.
“Isu munculnya Selat Muria ini perlu dilihat dari kejadian bencana banjir besar yang terjadi di wilayah pesisir Demak akibat faktor cuaca ekstrim dan juga kontribusi penurunan tanah. Untuk itu riset terkait aspek cuaca ekstrim, dan penurunan tanah sangat penting dilakukan di wilayah pesisir Demak,” terang Adrin di laman BMKG.
Menurut Adrin, riset terkait aspek cuaca ekstrim dan penurunan tanah di wilayah pesisir Demak merupakan langkah penting untuk memahami dan mengurangi risiko bencana.
Tim periset dari LIPI sebelumnya telah melakukan riset pada tahun 2017-2019 yang mengungkapkan bahwa laju penurunan tanah di wilayah Kota Demak mencapai 2,4 – 2,5 cm/tahun. Pemicunya, proses pemadatan alami dan penurunan muka air tanah.
Adrin juga menjelaskan, fokus riset di Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN terkait gempa bumi, tsunami, gunungapi, dan gerakan tanah serta kajian risiko dan resiliensi bencana geologi.
Kegiatan riset dan inovasi yang dilakukan mencakup pemetaan dan pemodelan sumber bahaya geologi, dengan tujuan mendapat pemahaman yang komprehensif terkait karakter sumber bahaya geologi dan periode ulang kejadian.
Riset ini juga untuk memberikan pengembangan teknologi pemantauan dan peringatan bahaya geologi, yang telah diimplementasikan di beberapa daerah risiko bencana geologi, seperti zona Sesar Lembang dan wilayah Selat Sunda.
‘’Riset dan inovasi di bidang kebencanaan geologi merupakan langkah krusial dalam memitigasi risiko bencana secara efektif,’’ ujarnya.
Dengan pemahaman yang mendalam terhadap karakteristik sumber bahaya geologi dan penerapan teknologi pemantauan yang tepat, kata dia, diharapkan masyarakat dapat lebih siap menghadapi ancaman bencana alam, termasuk potensi risiko di sekitar Selat Muria. (ds)
Editor : Amin Fauzie