RADARTUBAN – Beredarnya video kemenangan seorang waria yang mengaku berasal dari Aceh dalam kontes kecantikan transgender mendadak viral di media sosial.
Kontes kecantikan transgender yang diselenggarakan di Hotel Orchardz, Jakarta Pusat pada Minggu (4/8) tersebut mengejutkan banyak pihak. Terlebih lagi kontes tersebut dimenangkan oleh waria yang mengaku berasal dari Aceh.
Dari video yang beredar di berbagai media sosial, menampilkan seorang peserta berkulit hitam dan bertubuh gempal menggunakan selempang dengan tulisan Aceh.
Suasana dalam acara tersebut terlihat sangat meriah dengan sorak-sorakan dari penonton. Dalam pengumumannya, peserta dengan selempang Aceh disebut sebagai pemenang kontes kecantikan bertitel Miss Beauty Star Indonesia 2024.
Hal ini langsung mengundang keramaian dari publik mengingat Aceh merupakan Serambi Mekkah sekaligus jantung Islam di Nusantara. Tidak sedikit yang merasa tidak terima dengan kontes tersebut karena dianggap mencoreng nama baik Aceh.
Menilik media sosial X, berbagai akun juga angkat bicara terkait permasalahan ini. Salah satunya disampaikan akun media X provini Aceh melalui cuitan akun @Aceh yang menyampaikan bahwa kemenangan Aceh dalan kontes tersebut merupakan usaha untuk menjatuhkan martabat dan syariat Aceh.
“Gerakan LGBT Global dan Barat usaha jatuhkan martabat dan Syariat Aceh dengan menangkan Gadis boh lolo *. Aceh lama menjadi target karena dianggap sebagai jantung Islam di Nusantara. Mereka tidak akan berhenti. Kiban menurut awak droen? @Prabowo @Jokowi?” tulisnya.
Sama halnya dengan cuitan tersebut, kebanyakan publik juga menentang kontes tersebut. Kemenangan kontes kecantikan transgender yang membawa nama Aceh tentu merupakan bentuk penghinaan, pelecehan, serta provokasi terhadap masyarakat Aceh dan Indonesia.
Terlepas dari kemenangan tersebut, hal yang menjadi pertanyaan publik berikutnya adalah keberadaan kontes ini yang dinilai mengherankan sebab bisa diselenggarakan di Indonesia. Publik berpendapat seharusnya acara semacam ini dilarang lantaran tidak layak untuk diselenggarakan. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama