RADARTUBAN - Kantor Kemenag Kabupaten Malang masih menelusuri kasus dugaan penganiayaan terhadap empat santri salah satu pondok pesantren (ponpes) di Kelurahan Pagentan, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Kepala Kemenag Kabupaten Malang Sahid mengatakan, institusinya sekarang ini tengah menelusuri kasus tersebut.
‘’Semoga segera memperoleh data yang pas dan akurat,’’ ujarnya dalam penjelasan tertulis.
Sahid juga menyatakan sudah berkomunikasi dan koordinasi dengan pihak pondok pesantren dan kepolisian. ‘’Semoga bisa cepat tuntas,’’ ujarnya.
Sementara itu, Dwi Sasmito, orang tua santri korban penganiayaan berinisial DA mengatakan, dia sudah mendampingi anaknya untuk menjalani visum di RSUD Kanjuruhan Malang pada Minggu (1/9) malam.
Visum tersebut untuk melengkapi alat bukti setelah dia bersama anaknya melapor ke Polres Malang pada Minggu sore.
‘’Kasus ini harus tetap berlanjut dan pelaku dijatuhi hukuman setimpal agar tidak terulang penganiayaan yang mencederai institusi pondok,’’ tegasnya.
Diberitakan sebelumnya, DA dan tiga santri lainnya berinisial AD, FA, dan RA dianiaya pengasuh sekaligus keamanan salah satu ponpes di Kelurahan Pagentan, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Penganiayaan yang berlangsung, Minggu (25/8) sekitar pukul 23.30 itu dilaporkan ke Polres Malang, Minggu (1/9) sore.
Terlapornya, pengasuh sekaligus keamanan ponpes setempat berinisial BU.
Kronologi penganiayaan tersebut, Minggu (25/8) tengah malam, DA yang menghuni kamar D bermain ke kamar B.
Ketika berada di dalam kamar B, DA asyik ngobrol dengan tiga temannya dengan kondisi kamar gelap setelah lampu dimatikan.
Pelaku yang masuk kamar langsung menyalakan lampu dan meminta keempat santri tersebut keluar.
Setelah itu, pelaku meninggalkan mereka dengan alasan hendak melanjutkan setrika baju.
Berselang sekitar 10 menit kemudian, pelaku kembali datang dan langsung menghajar DA di depan kamar.
Awalnya DA ditendang, kemudian dipukuli hingga pelipis kirinya berdarah.
Setelah menganiaya DA, pelaku diduga melakukan kekerasan kepada tiga santri lainnya.(*)